Bau karet terbakar itu masih menggantung di udara pagi Kemang, menusuk hidung dan membuat mual. Di depan gerbang, Slamet berlutut dengan napas yang tidak beraturan, menatap sepatu bot kerja yang hangus itu. Ada sisa-sisa jelaga hitam yang menempel di aspal, membentuk pola silang yang kasar."Woi! Mas Brian! Sini, Mas!" teriak Slamet, suaranya parau karena panik.Brian melompat keluar dari lobi rumah, kunci inggris besar masih di genggamannya. Arya menyusul di belakang, wajahnya setegang kawat baja. Mereka berdua berhenti tepat di samping Slamet, menatap objek mengerikan di tanah itu."Sepatu bot... proyek?" bisik Arya. Ia menoleh ke arah jalanan yang sepi. "Tadi kamu liat siapa, Met?"Slamet mengusap keringat di dahinya, tangannya gemetar sedikit. "Nggak jelas, Mas Ar. Cuma bayangan item, pake motor trail butut. Knalpotnya suaranya pecah banget. Begitu saya teriak, dia langsung tancap gas. Tapi dia... dia sempet noleh bentar. Matanya... serem, Ma
Magbasa pa