"Mas, kuncinya... Mas, lihat aku dulu!"Sonya mencengkeram lengan Arya yang sedang gemetar hebat saat mencoba memasukkan kunci ke lubang starter mobil. Di pagi buta yang berkabut itu, pelataran rumah Kemang terasa seperti kuburan terbuka; dingin, lembap, dan sarat akan jejak pengkhianatan. Arya menoleh, rahangnya mengeras hingga otot lehernya menonjol seperti kabel baja yang nyaris putus, sementara napasnya memburu, meninggalkan uap putih di udara yang berbau sisa mesiu semalam."Ibu hilang, Nya. Di bawah hidungku sendiri, bajingan itu bawa Ibu!" raung Arya, suaranya parau dan pecah, sebuah fragmentasi batin yang tak lagi bisa ia tutup-tutupi."Aku tahu! Tapi kalau kita nggak pergi sekarang, Anya yang jadi taruhan berikutnya!" Sonya menunjuk ke arah boks bayi di jok belakang, di mana Anya masih terlelap meski suasana sedang mencekam.Arya mengumpat pelan, menghantam setir dengan kepalan tangannya hingga terdengar bunyi klakson yang memekal telinga. Ia men
Read more