Masuk"Dia bukan kembaranmu, Mbak. Dia musuh dalam selimut yang dikirim dari Jogja!"
Suara Jessy meninggi, memecah ketegangan di meja makan The Fortress of Marunda. Pupil mata Sonya melebar drastis saat melihat angka nol persen pada hasil tes DNA yang terpampang di layar tablet. Napasnya tercekat di tenggorokan, sementara jemarinya gemetar hebat hingga menjatuhkan garpu peraknya ke atas piring porselen dengan denting yang memuakkan rungu.
Slevia, wanita yang selama ini dipuja
"Brian! Hubungi kurator independen sekarang! Sitaan negara ini tidak boleh meruntuhkan kedaulatan Marunda!"Suara Arya bergetar rendah namun penuh penekanan dominatif, memecah kesunyian sisa malam di ruang kendali rumah besar Marunda. Pupil mata Brian mengecil tajam, jemarinya gemetar hebat di atas gawai saat membaca rincian pembekuan aset atas nama Baskoro Junior. Di sampingnya, Jessy menarik napas dengan tersengal-sengal, dadanya yang terbalut gaun tidur satin naik-turun cepat menahan gejolak ngeri dari sabotase perbankan Jogja yang begitu rapi.Arya segera melangkah ke depan monitor utama, telapak tangannya yang hangat meremas bahu Brian untuk mengunci kepanikan administratif yang mulai merayap di ruangan. Bau maskulin Arya yang panas bercampur aroma kayu gaharu yang khas seketika memenuhi rungu, memberikan sauh emosional yang kuat bagi tim solid mereka. Sonya berdiri kaku di samping suaminya, menatap tajam angka hitungan mundur di layar kontainer gerbang yang kian
"Brian! Lihat monitor! Seluruh aset rumah tanggamu berstatus disita negara!"Jeritan Jessy memecah kesunyian sepertiga malam di dalam rumah mewah Marunda, nadanya bergetar hebat menembus pendar merah layar monitor kendali. Pupil mata Brian mengecil tajam, menatap dokumen pembekuan administratif yang diterbitkan secara kilat oleh pengadilan niaga Jogja atas nama bayinya, Baskoro Junior. Napasnya tercekat di tenggorokan, sementara jemarinya gemetar hebat saat menyadari bahwa kontainer besi di depan gerbang utama adalah jebakan hukum perbankan yang sempurna.Arya segera melangkah ke depan konsol komputer, telapak tangannya yang hangat menekan bahu Brian dengan cengkeraman maskulin yang sangat dominatif dan protektif. Bau parfum kayu gaharu yang panas dari tubuh Arya mengunci kepanikan di ruangan tersebut, memberikan sauh emosional yang kuat bagi tim solid mereka. Rahang Arya mengeras sempurna, matanya menatap tajam ke arah dokumen kliring internasional yang mendadak membl
"Mas Arya! Lihat monitor! Wanita di dalam fuso itu... dia adalah Arimbi Jogja yang asli!"Suara Sonya tenggelam dalam kepanikan sepertiga malam di ruang kendali utama rumah mewah Marunda, dadanya naik-turun dengan cepat akibat pasokan oksigen yang mendadak terasa menipis. Pupil matanya melebar drastis melihat transmisi visual dari kamera pengawas jalur tikus yang menampilkan siluet wanita paruh baya bermata tajam tersebut. Jemari Sonya gemetar hebat, ia mencengkeram lengan kokoh Arya hingga kuku-kukunya memutih pasi di atas permukaan marmer.Arya tidak membiarkan istrinya goyah; ia segera merengkuh pinggang Sonya, memberikan tekanan fisik yang sangat dominatif dan protektif untuk mengunci emosinya. Bau maskulin Arya yang panas bercampur keharuman kayu gaharu menyelimuti rungu Sonya, memberikan sauh instan di tengah pengalihan hak pengelolaan pangkalan secara sepihak. Rahang Arya mengeras sempurna, matanya menatap tajam ke arah pergerakan armada tanpa nomor lambung yang
"Brian! Lihat tanggalnya! Dokumen penonaktifan ini dikirim serentak ke seluruh manajer pangkalan!"Jeritan Jessy memecah kesunyian sepertiga malam di dalam rumah mewah Marunda, suaranya bergetar hebat menembus pendar layar monitor yang berkedip merah darah. Pupil mata Sonya melebar drastis saat membaca pesan otomatis yang masuk ke ponsel pribadinya, menyatakan bahwa posisinya sebagai pemimpin tertinggi Sonya Fast telah dibekukan secara administratif. Napasnya tercekat, jemarinya gemetar hebat hingga cangkir porselen di genggamannya retak membentur tepi meja jati ruang kendali utama.Arya segera melangkah maju, merengkuh pinggang Sonya dengan tekanan fisik yang sangat dominatif dan protektif untuk menahan guncangan mental istrinya. Bau maskulin Arya yang panas bercampur aroma kayu gaharu yang menguap di ruangan menyelimuti rungu Sonya, memberikan ketenangan instan di tengah kiamat birokrasi korporasi ini. Rahang Arya mengeras sempurna, matanya menatap tajam ke
"Brian! Bagaimana mungkin aset yayasan dipindahkan menggunakan identitas anak kita?!"Jeritan Jessy memecah keheningan malam di lantai atas rumah mewah Marunda, suaranya bergetar hebat menembus pendar merah tablet digitalnya. Pupil matanya melebar drastis, menatap grafik transaksi otomatis yang baru saja menguras dana abadi trust asing atas nama Baskoro Junior. Napas Brian tercekat, jemarinya gemetar hebat saat menyadari bahwa kelicikan Saraswati telah menyusup jauh hingga ke silsilah paling suci dari darah bayinya.Arya yang baru saja melangkah keluar dari kamar utama bersama Sonya segera mengambil alih interkom ruang kendali rumah. Bau maskulin Arya yang panas bercampur aroma kayu gaharu mendadak mengunci atmosfer, memberikan ketegangan yang menekan paru-paru bagi siapa pun di sana. Rahang Arya mengeras sempurna, matanya berkilat menatap rekaman CCTV gerbang luar yang masih memutarkan suara tawa lirih Mawar."Slamet, amankan perimeter luar gerbang, jangan biar
"Mbak Sonya... jadi selama ini... aku adalah anak dari pria yang membunuh Ayahmu?!"Suara Brian bergetar hebat melintasi sambungan telepon terenkripsi, memecah kesunyian ruang kerja CEO Sonya Fast pada paruh pagi yang gerah. Di balik meja kaca besarnya, napas Sonya tercekat, pupil matanya melebar drastis menatap lembar digital akta pengangkatan anak yang dikirimkan Brian dari Kantor Yayasan di Kuningan. Jemari Sonya gemetar hebat hingga menjatuhkan pena montblanc miliknya, meruntuhkan keangkuhan otoritas "CEO Galak" yang pagi ini sengaja ia pasang untuk memimpin restrukturisasi logistik.Arya yang berdiri di samping meja kerja langsung menahan tubuh Sonya, meremas bahu istrinya dengan cengkeraman maskulin yang sangat protektif dan dominatif. Bau parfum kayu gaharu dari tubuh Arya yang panas beradu dengan aroma melati Sonya, menjadi sauh instan di tengah badai informasi yang memuakkan rungu mereka. Rahang Arya mengeras sempurna, matanya menatap tajam ke arah la
Pagi itu, Bandara I Gusti Ngurah Rai disambut dengan langit biru bersih tanpa awan. Aroma dupa dan semilir angin laut yang khas langsung menyapa Brian dan Jessy saat mereka melangkah keluar dari pintu kedatangan domestik. Satu minggu setelah acara aqiqah Anya Baswira di Jakarta, akhirnya pasangan
Suasana di dalam kamar utama apartemen Sudirman itu terasa begitu pekat oleh aroma gairah yang menyesakkan. Begitu mereka melewati ambang pintu, Bobi tidak membiarkan waktu terbuang percuma. Dengan gerakan yang sigap namun tetap terkendali, ia mengangkat tubuh Jessy dan merebahkannya di atas ranj
Sore itu, langit Jakarta mulai meredup, digantikan oleh kerlip lampu jalanan yang mulai menyala di sepanjang jalur Sudirman. Jessy turun dari taksi online tepat di depan lobi apartemen dengan perasaan yang campur aduk. Ia tahu, jika Sonya sampai tahu ia kembali ke tempat Bobi tanpa penga
Udara di ruang kerja Sonya mendadak terasa tipis. Arya berdiri mematung di tengah ruangan yang berantakan, menggenggam kertas ancaman berwarna merah itu hingga remuk di tangannya. Di luar, suara kepanikan staf IT yang mencoba menyelamatkan server masih terdengar samar, namun bagi Arya, dunia seol







