Suara hujan masih terdengar dari luar jendela—tipis, teratur, seperti bisikan kota yang belum sepenuhnya bangun. Cahaya pagi merayap masuk lewat tirai tipis, jatuh miring di lantai kayu dan menyisakan garis-garis pucat di dinding yang kusam. Di dalam safehouse, aroma teh herbal, obat-obatan darurat, dan sup bawang bercampur jadi satu. Bau yang ganjil. Bau antara rumah tangga sementara dan ruang perawatan lapangan—tempat singgah yang tak pernah benar-benar dimaksudkan untuk ditinggali. Leonhardt terbaring di sofa, tubuhnya dibungkus selimut berlapis-lapis seperti upaya sia-sia menahan dingin yang datang dari dalam. Rambutnya masih sedikit lembap, wajahnya pucat, napasnya berat tapi teratur. Di dahinya, kompres kain sudah mulai menghangat. Margarethe berdiri di samping sofa, termometer di tangannya. “38,9,” gumamnya pelan. “Demam tinggi.” Di dapur kecil, Adelheid menoleh cepat sambil mengaduk semangkuk sup. Gerakannya gesit, tapi alisnya berkerut. “Dan dia masih punya keberanian
ปรับปรุงล่าสุด : 2025-12-30 อ่านเพิ่มเติม