“Matikan TV-nya! Maia, cepat matikan! Jangan bolehin dia lihat!”Teriakan panik Tante Ami menggema di ruang tengah safe house, memecah keheningan sore yang tenang. Maia, yang sedang asyik mengunyah camilan sambil mengganti-ganti saluran televisi, sempat tertegun sesaat.Jarinya yang berada di atas tombol remote seolah membeku. Namun, terlambat. Savita sudah berdiri di ambang pintu kamar, bertumpu pada tongkat penyangganya dengan napas yang sedikit tersengal.“Ada apa, Tante? Kenapa Maia nggak boleh nonton TV?” tanya Savita pelan.Matanya kini menangkap layar datar di depan sana. Maia mencoba menutupi layar dengan tubuhnya, wajahnya tampak sangat serba salah.“Nggak ada apa-apa, Mbak. Ini... ini cuma berita politik ngebosenin. Mending kita dengerin musik aja, ya?”Maia mencoba mengalihkan pembicaraan dengan nada suara yang dibuat-buat ceria, tangannya sibuk menekan tombol volume turun.Savita tidak bergeming. Dia menggeser langkahnya perlahan, mengabaikan rasa nyeri di tubuhnya. “Maia,
Read more