“Mas, duduklah. Kamu bikin aku pusing,” kata Ami yang duduk di sofa sambil terus memutar tasbih di tangannya.Wajahnya pucat, bibirnya tak henti-hentinya merapal doa.“Aku nggak bisa, Mi. Aku nggak bisa diam,” balas Bagus. “Di dalam sana ada putri kita, keponakanku, dan pemuda yang mempertaruhkan nyawanya. Bagaimana aku bisa tenang?”Waktu berjalan merangkak. Satu jam. Dua jam. Tiga jam. Belum ada kabar apa pun.Tiba-tiba, dari ruang operasi Dimas, terdengar kepanikan.“Pendarahan! Ada pendarahan!” teriak Dr. Suryo.Monitor jantung Dimas mulai berbunyi nyaring. Di saat yang bersamaan, di ruang operasi Savita, alarm lain berbunyi.“Tekanan darah pasien drop! Irama jantungnya tidak stabil!” seru ahli anestesi.“Suryo, bagaimana di sana?!” Dr. Anwar berteriak melalui interkom.“Beri aku lima menit lagi, Anwar! Aku hampir berhasil mengatasinya!” balas suara Dr. Suryo, terdengar tegang.Di tengah kekacauan itu, pintu koridor ruang operasi terbuka. Seorang perawat keluar dari ruang operasi
อ่านเพิ่มเติม