“Vita, kamu liat mawar putih yang baru mekar di pojok sana? Baunya enak banget, persis kayak parfum yang sering kamu pakai dulu.”Suara Dimas terdengar lembut saat berjalan perlahan di samping Savita menyusuri taman belakang rumah keluarga Arrazka.Sore itu, matahari tidak terlalu terik, sinarnya yang keemasan menyapu ribuan kelopak bunga yang sengaja ditanam oleh Ami dan Maia untuk merayakan kembalinya kehidupan di rumah ini.Taman yang dulu sempat terbengkalai kini berubah menjadi lautan warna-warni yang menyegarkan mata.Savita menghentikan langkahnya dan menghirup udara dalam-dalam.“Iya, Dim. Tante Ami pinter banget milih bibitnya. Aku nggak nyangka rumah ini bisa sehidup ini lagi. Dulu... tiap kali aku liat jendela, yang ada cuma bayangan tembok tinggi.”“Sekarang nggak ada lagi tembok yang ngurung kamu, Vita,” sahut Dimas.Pria itu berdiri tepat di hadapan Savita, menatapnya dengan binar mata yang tidak pernah berubah sejak pertama mereka bertemu. Penuh dengan ketulusan yang mu
Read more