“Dalam satu jam, novel ini tersedia di seluruh toko buku nasional.” Suara Bastian terdengar melalui loudspeaker ponsel yang diletakkan di atas meja makan marmer apartemen penthouse tersebut. Savita, yang sedang menyesap the hangatnya, terhenti sejenak. Ada denyut aneh di dadanya. Bukan lagi rasa sakit akibat penyakit, melainkan kombinasi antara kecemasan dan kepuasan yang luar biasa. Harinya telah tiba. “Tim distribusi sudah lapor, semua gerai utama di Jakarta, Surabaya, dan Medan sudah memajang bukunya di rak paling depan,” lanjut Bastian dengan nada bangga. “Versi digitalnya juga sudah otomatis rilis di aplikasi E-Book tepat jam sepuluh nanti.” Savita meletakkan cangkir tehnya, jari-jarinya yang kini terlihat lebih sehat mengusap permukaan ponselnya. “Terima kasih, Bastian. Saya nggak menyangka prosesnya bisa secepat ini.” “Kamu yang bikin prose
Read more