“Ya, Bi.”Savita mengangguk kemudian mereka saling berpelukan. Menguatkan satu sama lain. Bi Uti tidak bisa mengungkapkan betapa sayang dia pada Savita yang sudah menjadi majikannya sejak awal Mahendra mengenalkan sebagai calon istri ketika itu.“Maaf, Nya.” Bi Uti melepaskan pelukannya.Savita mengulurkan tangan mengusap punggung Bi Uti berulang kali. “Makasih, ya, Bi.” Ulang Savita.Savita bersyukur karena masih ada Bi Uti yang mau bersamanya ketika semua orang rumah memusuhinya.“Nya, saya bantu beres-beres kamar, ya.” Bi Uti berdiri dari duduknya. “Barang-barang Nyonya taddi saya minta taruh depan kamar ini saja. Saya minta tukang kebun bantu angkat dari lantai dua.”Savita mengangguk. Dia memerhatikan Bi Uti yang berjalan keluar kamar itu. Kemudian, mata Savita tertuju pada boneka beruang kecil yang ada di nakas. Diangkatnya boneka itu lalu dipeluknya.“Wangi Kaivan,” bisiknya dipeluk semakin erat.Ketika dia memeluk boneka itu erat-erat, dirasakannya sesuatu yang keras berada d
Last Updated : 2025-12-03 Read more