“Terobsesi?” bisik Mahendra. Matanya tidak lepas menatap Savita. Namun, dengan tatapan yang sulit diartikan.Savita menggeleng. Dia berusaha meyakinkan suaminya bahwa itu tidak benar.“Benar begitu, Savita?”Savita menggeleng lagi pada pertanyaan Mahendra. Dia tidak ada sedikitpun dalam benaknya untuk melakukan itu pada suaminya sendiri. Gita terlalu berlebihan menurutnya.“Mas kan cerita ….,”Gita mulai lagi. Suaranya pelan. “Semalam katamu Mbak Savita nolak, kan? Padahal sekedar tidur, dia nggak mau. Itu apa namanya? Dia kayak benci kamu, Mas. Persis kayak novel yang dia tulis.”Savita melihat senyum Gita yang begitu licik di belakang Mahendra. Savita mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuhnya. Ucapan Gita seperti racun yang sangat cepat menyebar ke dalam tubuh.“Nggak, Mahen.” Savita berkata. Suaranya bergetar. “Aku penulis. Itu kerjaan aku, Mahen. Aku harus bisa terima yang editor minta.”Savita ingin menangis. Dia benar-benar tidak tahu lagi harus berkata apa pada Mahendra agar
Last Updated : 2025-11-27 Read more