Share

RAHASIA

Penulis: KEZHIA ZHOU
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-06 17:06:59

Lucan masih duduk di ujung ranjang setelah kepergian Seira. Ruangan itu terasa terlalu sunyi. Terlalu kosong.

Matanya menatap lantai, seakan berharap menemukan sisa-sisa kehadiran gadis itu di sana.

Namun ada sesuatu yang aneh.

Tubuhnya—yang tadi seperti remuk, lemah, nyaris tak bisa menopang dirinya sendiri—kini terasa… ringan.

Lucan menggerakkan jemarinya perlahan. Menguji. Lalu kakinya. Ia berdiri.

Telapak kakinya menapak lantai dengan tegap.

Tidak ada rasa nyeri.

Tidak ada denyut menyiksa d
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI   SALAH PAHAM

    Pagi itu udara terasa lebih dingin dari biasanya. Entah karena angin, atau karena ketegangan yang tak terlihat di dalam mobil.“Bagaimana keadaanmu? Aku kira kau masih sakit.” ucap Mia, menoleh pelan kepada Lucan. Suaranya lembut, tapi matanya tajam—mengamati setiap reaksi kecil di wajah lelaki itu.Lucan hanya melirik sekilas sebelum kembali fokus pada setir. Rahangnya mengeras.“Aku sudah baik baik saja.” jawabnya singkat.Mia tersenyum tipis. Senyum yang bukan sekadar senyum—melainkan keputusan.“Kau tau? Aku sangat kecewa denganmu.”Lucan terdiam. Jari-jarinya mencengkeram setir lebih kuat.“Tidak pernah ada yang menolak ciumanku,” lanjut Mia, sengaja memperlambat ucapannya.“..selain kau. Semalam.”Sunyi.Lucan tidak menoleh. Tidak membalas. Ia tidak ingin memulai perdebatan pagi itu. Kepalanya masih dipenuhi bayangan wajah Seira semalam—mata yang menyala marah, bibir yang bergetar menahan emosi.“Seira..” gumamnya pelan, lebih seperti bisikan untuk dirinya sendiri.Mia menangkap

  • REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI   KESEMPATAN

    Lucan menuruni tangga menuju lantai satu dengan langkah berat. Ia duduk di sofa, bahunya merosot, kepala tertunduk. Untuk pertama kalinya sejak jatuh ke dunia manusia, dadanya terasa nyeri—bukan karena sigil, bukan karena luka fisik. Ini berbeda. Menyesakkan. Seolah ada tangan tak terlihat yang mencengkeram jantungnya perlahan.“Baiklah…” gumamnya lirih.“Terserah kau saja, Seira.”Kalimat itu jatuh tanpa perlawanan. Bukan pasrah—melainkan lelah.Lucan merebahkan tubuhnya di sofa. Lampu ruang tamu dibiarkan redup. Malam berjalan terus, menyeret waktu tanpa ampun. Ia tak tahu kapan Leo pulang. Tak tahu kapan matanya terpejam. Yang ia tahu hanya satu—rasa sakit ini tak punya penawar.**Di lantai atas rumah mewah, Mia berdiri kaku di hadapan Dea Lira. Wajahnya tegang, rahangnya mengeras. Emosi yang sejak tadi ia tekan kini tak lagi bisa disembunyikan.“Bu,” suaranya bergetar, bukan karena takut, melainkan amarah yang tertahan.“Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kau memanggil Lucan ‘pu

  • REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI   PENOLAKAN

    TING TONG!TING TONG!Tak ada jawaban.Rumah Seira tertutup rapat, sunyi seperti tak berpenghuni. Lampu teras belum menyala, halaman kecil itu tenggelam dalam gelap senja. Lucan berdiri lama di depan pintu, menunggu—lalu akhirnya menghela napas dan duduk di ujung anak tangga kecil di depan rumah itu.Leo? Entahlah. Tak ada tanda-tanda siapa pun berada di dalam.Pikirannya melayang jauh. Terlalu jauh.Tentang Seira. Tentang bahaya yang kini membayangi gadis itu.Nama Dea Lira dan Elyon berputar di kepalanya seperti bayangan gelap yang tak mau pergi. Keberadaan dirinya sudah diketahui. Tidak ada lagi tempat aman. Tidak ada lagi ruang untuk bersembunyi.“Kalau aku bersembunyi, lalu… bagaimana dengan Seira?” gumam Lucan pelan.Keningnya berkerut dalam. Dadanya terasa sesak. Bayangan Seira yang terikat, tubuhnya gemetar, matanya dipenuhi ketakutan—semua itu menekan dadanya seperti pisau.“Seira tidak boleh terluka,” katanya lirih, hampir seperti sumpah.“Aku tidak akan membiarkannya.”Ia m

  • REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI   RAHASIA

    Lucan masih duduk di ujung ranjang setelah kepergian Seira. Ruangan itu terasa terlalu sunyi. Terlalu kosong.Matanya menatap lantai, seakan berharap menemukan sisa-sisa kehadiran gadis itu di sana.Namun ada sesuatu yang aneh.Tubuhnya—yang tadi seperti remuk, lemah, nyaris tak bisa menopang dirinya sendiri—kini terasa… ringan.Lucan menggerakkan jemarinya perlahan. Menguji. Lalu kakinya. Ia berdiri.Telapak kakinya menapak lantai dengan tegap.Tidak ada rasa nyeri.Tidak ada denyut menyiksa dari sigil yang biasanya membakar tulangnya dari dalam.Hilang.Lenyap begitu saja. Seolah rasa sakit itu tak pernah ada.Lucan menatap kedua telapak tangannya, membaliknya perlahan, seakan mencari bekas luka yang tak terlihat.“Apa yang sebenarnya terjadi padaku…” gumamnya pelan.Keningnya berkerut. Ini bukan pertama kalinya.“Ini sudah kedua kalinya,” ucapnya lirih, lebih kepada dirinya sendiri.“Rasa sakit itu… tiba-tiba menghilang.”Ia terdiam lama. Otaknya bekerja keras, menyusun kepingan ya

  • REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI   KEGILAAN MIA

    Mia merangkak naik, menindih tubuh Lucan dengan tekanan yang disengaja agar pria itu merasakan berat tubuhnya. Bibirnya menekan kasar, bukan sebuah ciuman lembut, melainkan sebuah klaim. Lidahnya memaksa masuk, menjelajahi rongga mulut Lucan dengan haus yang primitif.Lucan mengerang pelan, kepalanya bergerak gelisah berusaha menghindar, namun Mia mengunci rahang pria itu dengan jemarinya yang kuat.“Ngghh…” Lucan mengernyit. Rasa sakit dari luka-lukanya berdenyut hebat, namun Mia seolah tidak peduli.Mia menarik wajahnya sejenak, hanya untuk menatap Lucan dengan pandangan yang mengerikan—tatapan pemuja yang kehilangan akal sehat. Tangannya mulai menelusuri dada bidang Lucan, kukunya sedikit menekan kulit yang lembap oleh keringat dingin."Aghh… apa… yang kau.. lakukan?" suara Lucan parau, nyaris habis. Ia mencoba mendorong bahu Mia, namun tenaganya seolah menguap di udara.Mia justru tersenyum miring, senyum yang penuh dengan hasrat predator. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Lu

  • REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI   PEMPIASAN MIA

    Dengan susah payah, Lucan dipapah masuk ke dalam mobil milik Mia. Setiap langkah terasa seperti hukuman. Tubuhnya bergetar, napasnya terpotong-potong.“Haah… ngh—”Erangan tertahan lolos dari bibirnya ketika Mia membantu menurunkannya ke kursi belakang.“Hati-hati, Lucan,” ucap Mia cemas, kedua tangannya menopang bahu pria itu agar tidak terjatuh.Begitu punggungnya menyentuh sandaran kursi, Lucan langsung merebahkan kepala. Matanya terpejam rapat. Rahangnya mengeras menahan nyeri yang menjalar liar dari dadanya hingga ke tulang rusuk. Kemejanya masih belum dikenakan—kulit dadanya basah oleh keringat, berkilau di bawah cahaya lampu mobil. Napasnya naik turun tak beraturan, seolah paru-parunya sendiri menolak bekerja sama.Seira hendak duduk di samping Lucan, namun Mia bergerak lebih cepat. Ia menyodorkan kunci mobil ke arah Seira.“Kau yang menyetir. Ke rumah sakit,” katanya tegas.Lalu, tanpa menunggu jawaban, Mia masuk ke kursi belakang dan duduk di sisi Lucan, sengaja menempatkan d

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status