Share

KESEMPATAN

Auteur: KEZHIA ZHOU
last update Date de publication: 2026-02-10 17:43:27

Lucan menuruni tangga menuju lantai satu dengan langkah berat. Ia duduk di sofa, bahunya merosot, kepala tertunduk. Untuk pertama kalinya sejak jatuh ke dunia manusia, dadanya terasa nyeri—bukan karena sigil, bukan karena luka fisik. Ini berbeda. Menyesakkan. Seolah ada tangan tak terlihat yang mencengkeram jantungnya perlahan.

“Baiklah…” gumamnya lirih.

“Terserah kau saja, Seira.”

Kalimat itu jatuh tanpa perlawanan. Bukan pasrah—melainkan lelah.

Lucan merebahkan tubuhnya di sofa. Lampu ruang t
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Latest chapter

  • REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI   SEIRA..

    DUK! DUK! DUK!Suara langkah kaki Seira terdengar cepat menuruni tangga. Ia masuk ke dapur tanpa benar-benar sadar apa yang sedang ia lakukan. Tangannya membuka lemari es, mengambil air dingin, lalu menuangkannya ke dalam gelas.Ia meneguknya perlahan.Namun pikirannya tidak di sana.Bayangan Lucan—wajah pucatnya, keringat dingin di pelipisnya, cara dia berjalan tergesa masuk ke kamar Leo—terus berputar di kepalanya.Seira menatap kosong ke depan.“Apa dia… sedang mencoba mengambil simpatiku?” gumamnya lirih.Namun kalimat itu bahkan terdengar tidak meyakinkan bagi dirinya sendiri.Tubuhnya bersandar pada meja dapur.Gelas di tangannya masih setengah penuh.Matanya—tanpa sadar—berulang kali melirik ke arah tangga.Ke arah kamar Leo di lantai atas.Pintu itu…sedikit terbuka.**Di dalam kamar—Lucan terduduk di lantai.Punggungnya bersandar lemah pada sisi ranjang. Kepalanya sesekali terangkat, namun kembali jatuh. Matanya terpejam, rahangnya mengeras.“Agghh… hah… hah…”Napasnya tida

  • REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI   MENAHAN DIRI

    “Kau pria brengsek! Tidak seharusnya aku bertemu denganmu… menyebalkan!”Suara Seira pecah di punggung Lucan.Tangannya yang lemas beberapa kali memukul bahu pria itu, meski tanpa tenaga. Kepalanya bersandar berat di punggung Lucan, napasnya berbau alkohol, suaranya bercampur tangis yang tertahan.Lucan tidak menjawab.Tidak membela diri.Tidak juga menenangkan.Ia hanya berjalan.Langkahnya tetap tegak, meski setiap pijakan terasa seperti menghantam tubuhnya sendiri. Dadanya berdenyut pelan—bukan lagi ledakan rasa sakit seperti sebelumnya, tapi sisa-sisa nyeri yang menetap, menusuk dari dalam.Kekuatan di dalam dirinya belum pulih.Masih ada.Namun melemah.Seperti cahaya yang mulai redup, nyaris padam.Sesekali Lucan mengernyit tanpa sadar. Napasnya tertahan sepersekian detik sebelum kembali normal. Keringat dingin masih membekas di pelipisnya, meski udara sore mulai dingin.Namun ia tetap berjalan.Menggendong Seira.“Kenapa… kenapa harus kau…” gumam Seira lirih di punggungnya.Sua

  • REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI   MABUK

    Lucan hendak berbalik, berniat mengejar Seira yang semakin menjauh dari pandangannya.Namun—“LUCAN!”Teriakan Mia menghentikan langkahnya.Lucan membeku di tempat.Tubuhnya yang sudah bergerak setengah langkah terpaksa berhenti. Dadanya kembali berdenyut tajam, seolah setiap gerakan kecil pun cukup untuk memicu rasa sakit yang masih bersarang di dalam tubuhnya.Ia menutup mata sesaat.Menahan.Lalu perlahan berbalik.Mia berjalan mendekat dengan langkah santai, seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Wajahnya tenang, bahkan sedikit tersenyum.Ia meraih lengan Lucan dan menariknya hingga pria itu berbalik sepenuhnya menghadapnya.Lucan tidak menepis tangan itu.“Kau mau mengejarnya dan berkata padanya kalau kau sangat mencintainya, begitu, hm?”Nada suaranya ringan, tetapi jelas mengandung ejekan.Lucan diam sesaat.Tenaganya tidak sedang cukup untuk berdebat panjang.“Aku hanya ingin berbicara dengannya,” ucap Lucan pelan.Suaranya serak.Mia mendengus kecil.“Lupakan saja! Ingat, k

  • REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI   SEBENTAR SAJA

    Waktu berjalan sangat lambat. Setidaknya bagi Lucan.Pria itu masih berdiri di samping mobil Mia sejak pagi tadi. Tubuhnya tegap seperti biasa, bahunya lurus, wajahnya tetap tampan dan tenang. Siapa pun yang melihatnya mungkin hanya mengira ia sedang menunggu seseorang.Tidak ada yang tahu bahwa setiap detik yang berlalu terasa seperti siksaan baginya.Rasa sakit dari ritual semalam belum benar-benar hilang.Dadanya masih terasa seperti dibakar dari dalam. Sesekali Lucan mengernyit tipis. Hampir tidak terlihat, namun cukup untuk membuat napasnya sedikit tertahan. Tangannya sempat mencengkeram sisi mobil, menahan tubuhnya agar tidak goyah.Keringat dingin menetes di tengkuknya.Namun ia tetap berdiri.Tatapannya sesekali mengarah ke bangunan kampus.Seperti berharap seseorang akan keluar.Seira.Namun waktu terus berjalan. Pintu gedung itu tidak pernah mengeluarkan sosok yang ia tunggu.Di dalam kelas, Seira duduk diam memperhatikan dosen yang sedang menjelaskan materi. Matanya menatap

  • REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI   RINDU

    “Aghh…”Lucan menggeliat pelan.Rasa sakit itu belum pergi.Ia membuka mata perlahan. Langit-langit kamar yang sama. Warna putih yang dingin. Aroma parfum Mia yang samar masih tertinggal di udara.Ia masih di apartemen itu.Dadanya telanjang. Kulitnya pucat. Garis otot di tubuhnya tetap tegas—bahkan dalam keadaan lemah, ia masih terlihat memikat. Namun di balik ketampanan itu, ada sesuatu yang retak.Tangannya mencengkeram sprei. Urat-urat di lengannya menegang saat ia memaksa diri bangkit.Dadanya berdenyut.Sigil itu tidak menyala lagi—tetapi rasa perihnya seperti masih terpatri di dalam daging.Lucan duduk perlahan. Kepalanya sedikit menunduk. Ia memejamkan mata sesaat, menahan gelombang pusing yang datang tiba-tiba.Napasnya belum stabil.Setiap tarikan terasa berat.Ia menurunkan kaki ke lantai marmer yang dingin. Sentuhan dingin itu membuatnya sedikit tersadar, meski keringat dingin masih menempel di pelipisnya.Tangannya meraba dinding, berpegangan saat melangkah keluar kamar.

  • REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI   FOTO VULGAR

    Tubuh Lucan terasa seperti sedang dilelehkan dari dalam. Sisa-sisa Ritual Cahaya garapan Dea Lira masih berkecamuk di dalam nadinya, mengirimkan gelombang rasa sakit yang menusuk hingga ke sumsum tulang. Setiap inci kulitnya terasa panas membara, seolah-olah cahaya itu ingin merobek dagingnya untuk keluar."Lucan...!! Akulah penawarmu! Jangan pernah berharap Seira akan datang ke sini!" Mia berbisik tajam, napasnya yang memburu terasa kontras di kulit Lucan yang mulai demam."Hanya aku yang bisa memadamkan api ini. HANYA AKU, LUCAN!"Tanpa peringatan, Mia menyambar bibir Lucan untuk kesekian kalinya, melumatnya dengan rakus seolah ingin menyerap paksa sisa nyawa pria itu. Lucan mengerang tertahan; setiap sentuhan Mia justru memicu rasa perih yang luar biasa pada sarafnya yang sedang meradang."Mia... tolong... hen... tikan..." rintih Lucan parau.Kelopak matanya bergetar hebat, mencoba memfokuskan pandangan yang kabur menahan sakit.Mia menarik diri sejenak, namun bukan untuk memberi ru

  • REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI   RUMAH MIA

    Lucan tetap melangkah, membantu Leo merapikan ruang tamu yang porak-poranda. Ia mengangkat kursi yang bergeser, membalik meja kecil yang terjungkir, menggeser pecahan kaca ke sudut ruangan. Setiap gerakannya hati-hati, seolah ia sedang menebus sesuatu—bukan hanya kerusakan, tapi juga kepercayaan ya

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-23
  • REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI   DATANG KERUMAH

    Mata Seira terpaku pada punggung Lucan yang kini berdiri tegap di hadapannya—seperti dinding hidup yang sengaja dibangun untuk menghalangi siapa pun yang mendekat. Posturnya kaku. Bahunya tegang. Ada sesuatu yang salah, dan Seira bisa merasakannya.“Sepertinya kau begitu takut aku menyakitinya, Luc

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-22
  • REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI   BERTEMU LUCAN

    Pria itu berdiri dari kursinya. Langkahnya tenang, nyaris tak menimbulkan suara. Ia berjalan melewati meja Lucan dan Seira tanpa menoleh, lalu mendorong pintu kaca kedai es krim itu dan menghilang di balik keramaian jalan.DEG!Udara berubah.Lucan merasakan itu seketika—sebuah sensasi yang tak bis

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-22
  • REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI   KETAHUAN

    Seira mempersilahkan Silas duduk di sofa.“Duduklah. Aku akan mengambilkan obat,” ucapnya cepat, lalu bergegas ke arah lemari.Silas menyandarkan tubuhnya, matanya menyapu setiap sudut rumah itu—sederhana, hangat, dan terlalu nyata, untuk tempat persembunyian seorang Seraphine buronan.ZZTTT—!!Lam

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-22
Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status