Pagi itu ruang rapat utama sudah dipenuhi oleh berbagai tokoh penting. Di antara mereka ada pengacara berpengalaman, notaris yang siap menyaksikan setiap langkah, direktur rumah sakit, serta beberapa pejabat tinggi lainnya yang sudah menjelma di kursi masing-masing. Suasananya jelas formal, namun ada getaran ketegangan yang mengendap di udara—seolah semua orang merasakan bahwa hari ini akan ada peristiwa besar yang mengubah segalanya.Sementara itu, di luar ruangan, Bram mengetuk pintu sebelum masuk ke dalam dan menghadap Devan. "Semua undangan sudah berkumpul di ruang rapat," katanya dengan nada singkat. "Hanya Nyonya Luna yang belum datang."Devan, yang sebelumnya berdiri memandangi jalanan dari dekat jendela, perlahan menoleh mendengar kabar itu. Tanpa banyak bicara, ia segera mengambil ponsel dan menghubungi ibunya. Percakapan hanya berlangsung beberapa detik saja, namun setelah telepon terputus, wajah Devan tampak lebih rileks dari sebelumnya."Ayo kita pergi," ujarnya dengan nad
Magbasa pa