“Yasmin, Sayang… Kamu masih di sana?”Yasmin tersadar dari lamunannya yang mendalam. Ia mengerjap beberapa kali, baru bisa menjawab panggilan Satrio.“Iya, Mas. Aku dengar kok,” jawabnya sambil mengusap wajah yang terasa basah oleh keringat dingin.“Jadi bagaimana tawaranku tadi? Kamu mau, kan?” Satrio kembali mengulang pertanyaannya, menunggu jawaban dengan penuh harap.Yasmin menggigit pelan bibir bawahnya, kembali terjebak dalam kebingungan yang makin berat. “Mas, masalah ini kita bahas lain kali saja ya…” jawabnya akhirnya, berusaha menghindari keputusan yang mendadak.Di seberang sambungan, terdengar helaan napas panjang yang terasa berat. Yasmin bisa merasakan rasa kecewa dan frustasi dalam nada bicara pria itu. “Baiklah, Sayang. Maaf kalau aku terkesan terlalu terburu-buru.”“Maafkan aku juga, Mas,” ucap Yasmin dengan kepala tertunduk, seolah Satrio bisa melihatnya.“Tidak apa-apa, Sayang. Memang aku yang salah.”Yasmin hanya bisa terdiam. Ia tahu, meski Satrio berusaha terdeng
Last Updated : 2026-06-14 Read more