“Tarik napas. Sekali lagi.”Anita mengikuti arahan Rex, menarik nafas dalam.Mereka berdua sudah berada di parkiran Dinas Sosial Bandung.Rex masih menatap Anita yang jari-jarinya menggenggam erat map cokelat berisi berkas mereka, telapak tangan satunya membawa tas bayi yang kebesaran untuk satu setengah jam prosedur.Lalu Anita sekali lagi meraup udara pagi Bandung yang dinginnya menempel di tulang. “Oke. Kita masuk,” katanya dengan sorot mata penuh keyakinan.Di front desk sudah ada Deni dan Yuli—lengkap dengan senyum lega orang yang akhirnya melihat dua kepala batu mengambil keputusan waras.“Selamat pagi, Pak Rex, Bu Anita.” Yuli menyambut, mencondongkan badan, suaranya hangat. “Sudah siap ya?”“Siap … tapi gugup,” timpal Anita jujur.“Kalau gugup berarti itu normal, Bu.” Deni terkekeh. “Boleh saya minta berkasnya, kita verifikasi sebentar. KTP, buku nikah, surat domisili Bandung, dan—wah, rapi banget Bu Anita.”Rex melirik, separuh bangga separuh ngeri. “Iya, kalau perka
Terakhir Diperbarui : 2025-12-11 Baca selengkapnya