Dewi yang sangat mengenal sifat putranya, hanya menaikkan sebelah alisnya. Ia bisa melihat dengan jelas bagaimana mata Ibra sesekali melirik sinis ke arah Hendra. Sebagai ibu, ia tahu benar ini bukan sekadar pertanyaan tentang ajakannya pada Aya, melainkan ledakan cemburu yang sedang ditutupi."Kami lapar, Ibra," jawab Dewi tenang sembari menyeruput minumannya. "Lagi pula, makanan di kafe Hendra ternyata enak. Kami jadi makan siang di sini, deh.""Makan siang?" Ibra mendengus kesal, matanya kini terang-terangan menatap Hendra dengan tajam."Apa salahnya makan siang di sini bersama calon mitra kerja dan teman lama? Lagian ibu hamil juga harus istirahat sebentar karena lelah belanja," lanjut Dewi."Oh... Jadi kalian memang sengaja mencari kesempatan? Bukankah seharusnya urusan pekerjaan dibahas di kantor, bukan sambil tertawa-tawa seolah sedang kencan buta?" sindir Ibra lagi."Mas, jaga bicaramu!" tegur Aya dengan wajah yang mulai memerah karena malu. Meski ia senang karena suaminya ten
Read more