Tak lama kemudian, Tina datang membawa nampan. Bukan bubur hambar seperti semalam, melainkan nasi putih dengan sayur bening bayam dan potongan ayam rebus yang aromanya menggoda.Aya pun berjalan di sampingnya sembari menuntun Putra yang sudah rapi dengan seragamnya."Silakan dimakan, Tuan," ucap Tina sopan sembari meletakkan nampan itu di atas nakas."Hm." Ibra hanya mengangguk pelan."Makasih, Bu," ucap Aya kemudian. Tina segera keluar meninggalkan mereka."Ayah? Ayah masih sakit?" tanya Putra terlihat cemas.Ibra menatap putranya. "Ayah tidak apa-apa.""Putra," panggil Aya dengan lembut. "Putra berangkat sekolah sama Nenek, ya? Nggak papa, kan?" tanya wanita itu.Putra mengangguk. "Iya, Bun." Bocah itu kemudian menoleh menatap sang ayah. "Ayah, cepat sembuh, ya? Nanti Putra ajak jalan-jalan ke alun-alun."Ibra hanya tersenyum tipis sembari mengusap lembut pipi anaknya. "Iya.""Dadah, Ayah! Dadah, Bunda!" Bocah itu segera menyalami kedua orang tuanya sebelum pergi.Kini di kamar itu
더 보기