Suara itu terdengar berat, penuh penekanan, dan terdengar sangat mendesak. Aya mencoba mencari sumber suara itu, namun pandangannya kabur.Di tengah kegelapan, ia tiba-tiba melihat sosok ibunya. Namun, sang ibu tidak tersenyum. Wajah ibunya pucat pasi, seperti kertas yang kehilangan warna, dengan butiran keringat dingin sebesar biji jagung mengucur di pelipisnya."Ibu...." lirih Aya penuh rasa kerinduan. Ibunya yang telah lama tiada, kini duduk di sebelahnya dan terlihat nyata.Saat menyadari Aya memanggilnya, sang ibu menoleh lalu tiba-tiba menerjang ke arahnya. Bukan untuk menyerang, melainkan memeluk Aya dengan sangat erat, begitu erat hingga Aya sulit bernapas.Tangan ibunya yang gemetar membungkam mulut Aya dengan rapat. Mata sang ibu membelalak ketakutan, menatap ke arah kegelapan di belakang mereka, seolah ada monster yang sedang mengintai mereka.Aya ingin berteriak, bertanya apa yang terjadi, namun suaranya tertahan di tenggorokan. Jantungnya berdegup ke
Read more