"Ibra, dengarkan Mamah baik-baik," ucap Dewi dengan nada suara yang mendadak berubah serius dan penuh penekanan. "Kamu itu harus banyak-banyak bersyukur bisa memiliki istri seperti Aya. Dia itu wanita yang luar biasa sabar, baik, dan sangat menyayangimu meskipun sifatmu itu kaku seperti batu dan sedingin es kutub."Ibra hanya diam, menatap ibunya dengan ekspresi wajah yang datar tanpa ekspresi. Ia sudah sangat terbiasa dengan ucapan ibunya yang selalu membela Aya dalam segala situasi. Namun dirinya tidak marah."Mamah nggak mau tahu ya, kalau sampai Mamah dengar kamu menyakiti hati Aya lagi, atau membuat dia menangis karena sikap egoismu itu... Mamah nggak akan segan-segan buat coret namamu dari daftar keluarga. Kamu nggak akan Mamah anggap sebagai anak lagi, paham?" ancam Dewi dengan mata yang dipicingkan, memberikan peringatan yang tidak main-main."Mamah berlebihan. Aku nggak pernah berniat menyakitinya," sahut Ibra dengan suara rendah, mencoba membela diri sendiri.
Read more