Pagi harinya, saat Ibra bersiap-siap untuk pergi ke kantor, Aya berdiri di dekat pintu depan dengan perasaan yang berkecamuk. Ia mencoba mengabaikan rasa curiganya dari malam sebelumnya dan tetap menjalankan kewajibannya sebagai istri."Mas, ini dasimu belum rapu," kata Aya lirih, melangkah mendekat untuk merapikan dasi Ibra.Ibra diam membiarkan Aya merapikan dasinya, namun pandangan matanya lurus menatap ke arah luar jendela, sama sekali tidak berniat menatap wajah istrinya. Begitu Aya selesai, Ibra langsung mengambil tas kerjanya."Kita sarapan," ajak pria itu tanpa menoleh."Iya, Mas."Aya mendongakkan wajahnya, sedikit memajukan bibirnya, menunggu kecupan sebelum pergi yang tidak pernah dilupakan oleh Ibra.Namun, Ibra hanya menatapnya sekilas dengan tatapan kosong. Pria itu mengulurkan tangannya, menepuk puncak kepala Aya dua kali dengan sangat kaku."Hari ini aku ada rapat sampai sore," ujarnya dengan nada suara yang datar, namun lembut. Ia lalu berbalik dan berjalan keluar kam
閱讀更多