Masuk"Terima kasih, jagoannya Bunda. Sekarang Putra tidur ya? Bunda nggak akan lama. Putra berani kan sendiri?" bohong Aya lagi. Wanita itu mencium lembut kening Putra cukup lama, seolah sedang mengumpulkan kekuatan dari aroma lembut tubuh anaknya.
"Iya, Bunda. Nanti jangan lupa dikunci. Putra juga udah bawa kunci cadangannya. Kalau ada apa-apa nanti Putra ke rumah Pak RT," sahut Putra sembari menunjukkan kunci duplikat yang ia simpan di dalam kantong celananya. Seolah anak itu sudah biasa.Napas Ibra masih memburu di ceruk leher Aya. Aroma sabun miliknya yang samar bercampur dengan wangi khas tubuh istrinya menjadi candu yang menenangkan gairah yang baru saja mereda. Ibra mengecup bahu Aya dengan lembut, sebuah bentuk terima kasih dan permintaan maaf yang tidak terucap darinya.Namun, di bawah dekapan hangat itu, Aya masih terdiam. Matanya menatap langit-langit kamar yang terang benderang. Ada rasa hangat yang tertinggal di paha bagian dalamnya, namun ada kekosongan yang menyesak di pusat intinya. Ia merasa dicintai, tapi juga merasa seolah ada dinding penghalang yang dibangun Ibra karena ketakutan pria itu.'Kenapa dia?' Aya masih bertanya dalam hati."Terima kasih, Aya," bisik Ibra kemudian seraya menarik selimut untuk menutupi tubuh polos istrinya. Ia kemudian mengecup kening Aya cukup lama. "Tidurlah. Kamu pasti lelah."Aya hanya mengangguk kecil, memaksakan senyum tipis yang tidak sampai ke mata. Ia ingin bertanya mengapa Ibra tidak mau menyentuh
"Mas?" Aya kembali memanggil suaminya yang masih diam.Mata Ibra pun bergerak turun ke arah perut Aya yang bulat sempurna. Di mana ada kehidupan lain di dalamnya yang selalu bergerak pelan memamerkan keberadaannya di sana.Ibra menggeleng pelan, tangannya yang tadi aktif kini mengepal di sisi tubuh Aya. "Aku... aku takut, Aya. Bagaimana kalau aku menyakiti kalian? Dokter memang bilang aman, tapi melihat perutmu seperti ini... aku merasa seperti monster jika memaksakan diri," bisiknya.Tangan itu kemudian menjauh. Ibra menariknya. Ia hendak bangkit, bermaksud untuk pergi ke kamar mandi lagi, mungkin untuk melakukan 'permainan' yang sempat dipergoki Aya. Namun, sebelum ia sempat menjauh, tangan ramping Aya menahan lengannya dengan kuat."Mas!" Aya memanggil. Ibra pun terdiam karena genggaman yang cukup kuat itu berhasil menahannya. Lalu ia perlahan mengangkat tangannya yang bebas, berniat menepis pelan genggaman tangan Aya."Jangan pergi," pinta Aya tegas. Wanita i
Perjalanan pulang dari rumah sakit terasa lebih singkat dari biasanya bagi Ibra. Meski Samuel sesekali melirik dari spion tengah dengan tatapan penuh tanya, Ibra tidak peduli.Dunianya saat ini hanya berputar pada jemari Aya yang bertautan erat dengan tangannya di atas pangkuan Ibra. Ada semburat kebahagiaan yang tidak bisa ia sembunyikan, sebuah kelegaan yang seolah mengangkat beban berat berton-ton dari pundaknya.Kedua orang itu memilih diam, terutama Aya yang menahan malu di hadapan suaminya sendiri. Lalu wanita itu menyadari sesuatu dan menoleh menatap wajah Ibra yang masih tersenyum senang."Mas, seharusnya bukan aku yang malu, tapi kamu...." bisiknya Aya sembari mengerutkan keningnya saat menatap Ibra.Ibra membalas tatapan sang istri dengan senyuman lebar lalu mendekatinya. "Aku sudah bersembunyi, kamu sendiri yang malah mendengarnya. Itu salahmu karena kamu terlalu menggoda...." balasnya dengan berbisik.Wajah Aya kembali merah padam dan wanita itu pun m
Hening.Satu detik...Dua detik...Ibra yang tadinya duduk tegak dengan wajah datarnya, seketika mematung. Matanya melebar, menatap Aya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia seolah baru saja disambar petir di siang bolong. Kaget mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh sang istri.Wajah pria yang biasanya dingin dan tak tergoyahkan itu perlahan-lahan berubah warna menjadi merah padam. Mulai dari telinga hingga ke lehernya. Sementara wajah Aya juga tak kalah merahnya."Eummm... Saya hanya ingin tahu, Dokter. Dan... apakah ada posisi yang... tidak membahayakan bagi janin?" Aya kembali mengajukan pertanyaan dengan malu-malu.Dokter Anis terkekeh pelan, menyadari ketegangan di antara pasangan suami istri di depannya. Ibra yang biasanya bisa menahan ekspresi datarnya, kini juga malu di hadapan sang dokter kandungan."Oh... pertanyaan ini sangat bagus dan sangat manusiawi kok, Bu Aya," ucap dokter Anis dengan nada santai untuk mencairkan suasana. Tak lupa wanita paruh baya itu memasang
"Astaga, Mas. Aku baik-baik saja. Lihat, aku sehat, nggak ada yang sakit," ucap Aya sembari tersenyum kecil, meski hatinya sebenarnya merasa sangat malu."Duduk dulu, Mas. Tarik napas... Kasihan Samuel juga itu di depan sampai pucat." Aya menunjuk ke arah pintu.Ibra menoleh sekilas ke arah Samuel, lalu memberikan kode agar asistennya itu menunggu di mobil saja. Setelah Samuel pergi, Ibra duduk di samping Aya, masih dengan napas yang belum sepenuhnya teratur.Aya menuntun tangan Ibra untuk mengusap perutnya. "Rasakan, Mas. Anak kita sedang tenang. Dia nggak papa."Ibra memejamkan mata saat telapak tangannya yang besar menyentuh permukaan perut Aya yang keras dan hangat. Perlahan, detak jantungnya yang menggila mulai melambat.Ibra menatap wajah Aya. Pria itu menatap ketenangan di wajah istrinya. Aya masih tampak segar dan baik-baik saja. Tidak menunjukkan adanya tanda kesakitan."Beneran?" tanya pria itu masih tak percaya.Aya mengangguk. "Iya, Mas. Aku dan anak kita baik-baik saja."
Di dalam mobil, suasana terasa begitu tegang. Samuel yang duduk di balik kemudi sesekali melirik melalui kaca spion tengah, memerhatikan raut wajah sang Presdir yang mengeras. Atasannya itu tampak tidak tenang dengan jemarinya mengetuk-ngetuk sandaran tangan dengan irama yang cepat dan tidak beraturan."Pak, apa perlu saya hubungi Rumah Sakit untuk menyiapkan tim medis?" tanya Samuel hati-hati, mencoba memecah kesunyian yang mencekam."Tidak perlu, Sam. Fokus saja pada jalanan. Harus cepat sampai rumah," sahut Ibra pendek. Suaranya berat, sarat akan kecemasan yang tertahan.Pikiran Ibra melayang ke mana-mana. Baginya, pesan singkat Aya yang mengatakan ingin ke dokter kandungan di luar jadwal rutin adalah sebuah tanda bahaya. Apakah Aya merasakan kontraksi di usia kandungan yang baru memasuki lima bulan? Apakah kandungannya bermasalah?Ibra menggigit bibir bawahnya dengan perasaan yang sangat cemas. 'Ada apa sebenarnya...?' gumamnya dalam hati.Atau kejadian semalam saat Ibra tanpa sen
Ibra masih terdiam. Ia menerima cacian ibunya tanpa membela diri. Untuk pertama kalinya, ego sang Presdir yang arogan itu terusik oleh kenyataan pahit yang ia paparkan sendiri."Aku tidak tahu dia hamil, Mah," gumam Ibra pelan."Itu bukan alasan!" potong Dewi. "Seorang pria sejati akan memastikan w
Ibra tiba-tiba menginjak remnya. Hampir saja membuat mobil di belakangnya menabrak mereka. Beruntung mobil itu sudah berhasil mengerem dan mengumpat pada mereka."Apa yang-" Ucapan Aya terhenti. Ibra menoleh menatapnya. Lalu merebut ponsel Aya yang masih tersambung."Ay? Aya? Halo?" Terde
Tawa Ibra berhenti, tetapi kilatan di matanya justru semakin intens saat kembali menatap Aya. Ia mengusap sudut bibirnya yang sedikit basah akibat pagutan tadi, sebuah gerakan yang membuat wajah Aya semakin memanas."Hyper?" Ibra mengulang kata tersebut dengan nada mengejek. "Mungkin kamu ben
Langkah Ibra terasa ringan namun pikirannya berat saat ia memasuki lobi gedung Bagaskara Group. Para karyawan membungkuk hormat, tetapi sang Presdir hanya melewatinya dengan tatapan lurus.Di kepalanya, bayangan Aya yang menamparnya, Aya yang menatapnya getir, hingga Aya yang memegang keningnya den







