“Mas Raka,” batinku.Aku cukup syok, karena yang aku tahu, mas Raka sebelumnya tidak bekerja di sini.“Arin, ngapain kamu ke sini?” tanya mas Raka.Aku menutup buku menu, lalu menyimpannya di atas meja.“Mau sol sepatu! Pertanyaan yang konyol!” jawabku.Mas Raka terlihat kesal padaku. Namun, matanya tak hentinya menatapku.“Arin, penampilan kamu sangat berbeda. Bagaimana kabarmu? Apakah sekarang kamu bekerja?” tanya mas Raka.Aku menghembuskan napas kasar. Perutku sudah terlalu lapar untuk diajak ngobrol seperti ini.“Aku mau pesan steak dan spaghetti, minumnya vanilla ice. Oh iya, nggak pakai lama, ya, karena aku sudah sangat lapar,” jawabku.Mas Raka tiba-tiba duduk di hadapanku. Entah apa maunya lelaki ini. Aku sudah muak dengan tingkahnya.“Arin, tolong jawab pertanyaanku, apakah kamu kerja sekarang?” tanya Raka.Aku menyoroti mas Raka dengan tatapan tak suka. Dia terlalu mencampuri hidupku. Padahal kami sudah tidak ada hubungan lagi. Namun, sifat keingintahuannya, benar-benar san
Last Updated : 2025-12-18 Read more