Berpura-pura tidak melihat mereka, aku pun berjalan masuk melewati kedua orang itu tanpa sedikit pun melirik ke arah mereka. Aku fokus ke arah bu Lisna, yang memang lebih membutuhkan semangat dari orang-orang terdekat.“Bu Lisna!” panggilku.Bu Lisna menoleh, wajahnya terdapat beberapa luka goresan. Air matanya membanjiri kedua pipinya, menjadikan kedua matanya begitu sembab yang aku lihat.“Arin!”Kami berdua saling berpelukan. Bu Lisna menumpahkan tangisannya di dalam pelukanku.Orang-orang yang hadir, mereka yang cukup mengenalku, terlihat berbisik-bisik sambil sesekali melirik ke arahku. Aku tidak tahu mereka tengah membicarakan apa, aku tidak peduli dan aku tidak berniat untuk mencari tahu.“Sabar ya, Bu. Semua sudah takdir, suami Ibu sudah tenang di sana,” ucapku mencoba menenangkan bu Lisna.“Iya, Rin. Hanya saja saya masih tidak menyangka, kenapa suami saya harus secepat itu pergi? Tadi pagi, kami masih makan bersama, tertawa bersama, dan merencanakan untuk pergi jalan-jalan.
Last Updated : 2025-12-25 Read more