"AAAAAARGHHH! SAKIIIIT! MATI AKU! MATI AKU!"Jeritan Jerry memecah keheningan sore di rumah panggung kayu milik Pak Solehim. Suaranya melengking tinggi, membuat kepiting dan beberapa hewan laut dalam sekejap bersembunyi. "Pegang kakinya yang kencang, Pak! Jangan sampai gerak!" perintah Ryu tegas, keringat sebesar biji jagung menetes dari pelipisnya.Pak Solehim, nelayan tua yang kekar itu, menindih kedua kaki Jerry dengan sekuat tenaga. "Aduh, apa ini nggak infeksi? Terus, gimana ceritanya dia kena tembak? Apa kalian ini buron?" "Saya Dokter, Pak. Dan saya bukan buron. Kalo diceritain mah sedih. Pokoknya, ceritanya itu panjang kali lebar, kali tinggi," jawab Ryu."Yaelah, malah ngobrol. Selesaikan dulu luka-ku. Nggak enak nahan sakit begini," cerocos Jerry. Ryu menarik napas panjang. "Iya, iya! Ini lagi usah," jawab Ryu, di tangannya, pisau buah kecil yang sudah dipanaskan di atas api kompor tampak membara merah."Gigit ini, Pak Tua! Saya nggak punya anestesi. Kalau Bapak teriak t
Last Updated : 2026-02-17 Read more