Share

Bab 5 - Pergi

last update publish date: 2025-11-26 09:24:46

Permintaan apa lagi yang tidak bisa kau penuhi, Anshel?

Fleur naik pitam mendengarnya. Ia berteriak kecil sebelum pria itu sempat melangkah.

“Ini hanya perjanjian pernikahan! Apa sulitnya bagimu untuk menandatangani?”

Anshel menghela napas pelan. “Jangan keras kepala, Fleur. Ayahmu sudah menyerahkanmu padaku… dan Philippe juga menitipkanmu.”

Air mata menggenang di sudut mata Fleur.  “Dan kau hanya menjadikanku pajangan di rumah ini?” suaranya pecah.

Anshel berdiri tegak. “Aku mau mandi. Tidurlah dulu. Aku tidur di sini malam ini.” 

 Tanpa menunggu jawaban, ia berlalu meninggalkan Fleur di ruang tengah, membuat wanita itu terdiam dalam ketidakberdayaan.

Air matanya jatuh satu per satu. Ia bangkit, menuju dapur, membuka lemari wine. Dengan tangan gemetar, ia menarik satu botol. Saat hendak menuangkannya ke gelas, tangannya tergelincir. Gelas itu jatuh ke lantai, pecah berkeping-keping. 

Ketika ia akan Memungutnya, sebuah potongan besar melukai telapak tangannya, darah segar yang menetes perlahan, membuatnya tertegun sejenak. Namun ia terlalu lelah dan kacau untuk peduli. Ia meninggalkan pecahan itu begitu saja, membawa botol wine ke kamar.

Fleur duduk sambil menunduk di kursi, menahan napasnya saat botol wine dingin menggenggam tangannya. Detak jantungnya bergemuruh, seakan setiap tetes rasa pahit yang ditenggaknya menembus hatinya. 

Jari-jarinya menggenggam kain di pangkuan, gemetar saat ia mengusap air mata yang mulai mengalir, menimbulkan rasa pedih yang nyaris tak tertahankan. Napasnya tersengal, dadanya sesak, seolah setiap helaan udara membawa luka yang semakin dalam.

Fleur menatap butir-butir hujan merayap menuruni kaca jendela kamar. Suara rintiknya seperti cermin perasaannya, diam tapi menyakitkan. 

Saat Anshel kembali, Fleur masih menenggak minuman itu.

“Hentikan, Fleur.” Nada suaranya melembut, meski kesal. “Aku hanya tidak ingin kau merusak tubuhmu,” ucapnya, sambil berusaha meraih botol Fleur. 

Fleur mendengus pahit. “Lalu mengurungku di rumah besar ini, meninggalkanku sendirian setiap hari… itu membuatku bahagia?”

Ia menatap suaminya tajam, lalu merebutnya kembali dengan kasar. 

Anshel terkejut saat melihat tangan Istrinya berdarah. 

“Fleur, tanganmu berdarah, apa kau tidak merasakan sakitnya?” sambil mencoba menahan darahnya. 

Anshel langsung berlari kecil mengambil kotak P3K. Ia berlutut di depannya.

Anshel tetap diam, meraih tangannya lagi. Saat Fleur hendak menolak, suara Anshel berubah tegas. “Diam, Fleur. Biar aku obati.”

“Ceraikan aku.” Air mata menetes. “Aku tidak ingin hidup denganmu.”

Anshel mendengus pendek. “Benarkah?”

“Ya.” Fleur meneguk minuman panas itu. Matanya merah, suaranya pecah. Ia mendekatinya perlahan.

“Tuan Anshel…” Bibirnya bergetar. “Kalau aku tidur denganmu… dan memberimu anak… apa hubungan kita akan selesai?”

Anshel terdiam. Kata apa pun akan menyakiti.

Fleur menangkup wajahnya. Tanpa peringatan, ia menciumnya—penuh luka, penuh putus asa.

Anshel menarik wajahnya sedikit. “Aku tidak akan menyentuhmu saat kau seperti ini.”

Namun Fleur menggeleng, mendesak lebih dekat.

 “Ayahku dan Philippe sudah menyerahkanku padamu… Bukankah itu yang kau inginkan? Jangan munafik!”

Air matanya jatuh di pipi yang memerah, entah karena wine atau amarah. 

 “Bicaralah… katakan sesuatu… jangan diam.”

Anshel menahan napas, namun sebelum ia sempat berbicara, Fleur mendorongnya pelan hingga pria itu terjatuh ke kasur.

“Fleur!”

Fleur naik ke pangkuannya, mata mereka bertemu. Kesedihan di mata Fleur begitu telanjang, menusuk jauh ke dalam Anshel.

“Biarkan semuanya berakhir,” bisiknya. “Aku menyerahkan diriku padamu.”

Ia kembali mencium Anshel—saat laki laki itu masih menahan, namun ketika Fleur terisak sambil memegang kerah kemejanya, tubuhnya gemetar hebat, akhirnya Anshel meraih pinggangnya dan menariknya erat ke dadanya.

Dihembuskan nafasnya ke tengkuk membuat deru nafas berjarak sejengkal.

Imbuhan peluhan dan decikan ciuman itu turun ke dada.

“Kau yang memintanya…” suaranya rendah di telinga Fleur.  “Jangan sesali apa pun.”

Namun ketika suasana memanas dan tubuh mereka saling mendekat… ponsel Anshel bergetar di meja. Cahaya layarnya menembus gelap. Ia melihat nama penelepon itu, lalu seluruh ekspresinya berubah.

Anshel menatap layar dengan tatapan berat, bahunya menegang, rahangnya menegap. Napasnya tersengal sebentar, menahan dorongan untuk kembali menyentuh Fleur. Sekejap, matanya menatap istrinya sekali lagi, ada campuran rasa bersalah dan cemas yang membuatnya sulit melepaskan pandangan.

‘Maaf, Fleur, aku harus pergi.”

Ia menarik napas panjang, menekan pelipisnya, menahan perasaan yang ingin kembali menyentuhnya. Dengan terburu-buru, ia mengambil jas dan melangkah keluar, meninggalkan Fleur di ruangan yang kini terasa sunyi.

Fleur duduk terpaku, bahu gemetar, tangan masih menggenggam tepi selimut. Mata merahnya menatap kosong ke arah jendela, mendengar rintik hujan yang lembut di luar, lebih seperti latar yang menekankan kesendirian dan jarak antara dirinya dan Anshel. 

Tubuhnya lelah, napasnya tersengal, dada terasa sesak setiap kali ia mencoba menenangkan diri. Detik demi detik berlalu, seolah menegaskan rasa sakit yang terus menekan hatinya. Ia menelan ludah, menahan gemetar, mencoba mengumpulkan keberanian sebelum bangkit menghadapi kenyataan.

 “Aku menepati kontrakmu… tapi kau memperlakukanku seperti simpanan,… dan Ava Grace selalu menjadi pemenang,” bisiknya sambil menangis tersedu.

Fleur mengusap wajahnya, menahan air mata yang masih menetes. Ia menatap pintu yang baru dilewati Anshel, merasakan kekosongan yang menusuk harga dirinya. Napasnya berat, tapi di balik itu mulai muncul tekad yang perlahan membimbing langkahnya ke depan.

Fleur bergumam pelan, “Aku… harus melakukan sesuatu. Aku tidak bisa terus-terusan berada di sini dan membiarkan semua ini menghancurkanku.”

Setelah habis tangisnya, dengan tubuh yang masih lelah Fleur bangkit. Ia mencuci wajah, mengenakan mantel, dan mengambil koper yang sudah ia siapkan sejak malam sebelumnya.

Sebelum melangkah keluar, Fleur menoleh sejenak pada kamar yang kini terasa asing, seolah setiap sudut mengingatkan padanya bahwa cinta dan rasa sakit bisa hidup berdampingan. Dengan napas tertahan, ia menuruni tangga, siap menghadapi dunia di luar rumah besar ini, dengan luka di hati, namun tekad yang perlahan terbentuk, kini ia harus menemukan jalannya sendiri.

Namun setelah di ujung tangga, pelayannya melihat Fleur, dan mencoba menghentikannya.

“Nyonya, Anda mau ke mana?” suaranya terdengar cemas, setengah tergagap.

Fleur menoleh sekejap, matanya yang memerah menatap pelayan itu dengan campuran kesedihan dan tekad. “Aku… harus pergi,” jawabnya pelan, suaranya gemetar tapi tegas. “Aku tidak bisa tinggal di sini dan membiarkan semuanya menghancurkanku.”

“Pelayannya menelan ludah, terlihat ragu. “Tapi, Nyonya… malam sudah larut, hujan deras di luar… dan Tuan Anshel—”

Para pelayan hanya menunduk saat Fleur melengang melewatinya tapi mereka tidak punya pilihan lain. 

Fleur menepis salah satu tangan mereka, matanya masih merah dan napasnya berat. Ia melangkah ke tepi tangga, menoleh sebentar ke rak dekat pintu masuk, di sana payung hitam tergantung rapi. 

Dengan cepat, ia meraih payung itu, membuka lipatannya, dan menatap hujan yang membasahi halaman…

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Cynta
sudah berusaha sabar selama bertahun-tahun..
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Ceraikan Aku, Tuan Anshel   111 - Harga Sebuah Pengabdian

    Flashback:Saat Fleur sudah kembali ke ruangannya, ia meminta pada Smith. “Smith, aku mau minta bantuanmu, ini soal Fleur.”Smith masih mencerna apa yang akan dikatakan oleh pemilik tiga pilar perusahaan yang sangat berpengaruh pada ekonomi di Ardenvale itu. “Soal Fleur?” tanya Smith penasaran. “Ya, aku sudah memutuskan, sebaiknya kita libatkan Fleur dalam kasus ini, biarkan dia melanjutkan tugas Philippe. Aku sudah lama membuatnya menderita, kau tahu dulu hubungan kami tidak baik, aku tidak mau dia melewatkan hari-harinya murung seperti ini.”Smith memutar kursi rodanya, kini ia saling berhadapan satu sama lain dengan Anshel. Anshel mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. “Smith, berikan bukti-bukti itu pada Fleur, dia cerdas dia pasti bisa mudah memahaminya, apalagi dia seorang CTO.”Smith menopang dagu di atas tangan yang bertautan di bahu kursi roda. "Ya, dia bisa mengakses bukti lain dari sana. Siapa tahu ada sesuatu yang disembunyikan."“Benar, sepandai-pandainya dia me

  • Ceraikan Aku, Tuan Anshel   Bab 110 - Kembalilah ke Ruthven Wines

    Para wartawan mengerumuni rumah sakit Forest hingga esok hari. Siangnya Ibu Anshel datang untuk menjenguk keluarga Ruthven, ia dialihkan oleh pengawal Anshel yang menjaganya ke pintu lain, agar wartawan tak bisa mendekatinya, meski hanya untuk sekadar wawancara. Nyonya Olivia akhirnya berhasil masuk tanpa gangguan dari media. Ia memasuki ruangan Fleur tanpa kendala. Saat di dalam Ibunya langsung menubruk menantu kesayangannya. “Sayang, ibu minta maaf karena baru bisa datang,” kata ibunya sambil memeluknya. “Tidak apa-apa, bu,” jawab Fleur, wajahnya tampak bengkak karena banyak menangis. “Bagaimana kondisimu, kau tidak mengalami luka lain kan, Nak?” tanya Nyonya Olivia sambil memperhatikan seluruh tubuhnya. “Tidak Bu, ibu tahu bukan, Ayahku pernah cerita kalau waktu kecil aku sering mandi di sungai bersama Smith dan Philippe.”Nyonya Olivia menyunggingkan senyuman. Ketika menyebut nama kakaknya, ia kembali murung, linangan air matanya mengambang di sudut matanya. Ibunya menyen

  • Ceraikan Aku, Tuan Anshel   Bab 109 - Di Balik Kaca ICU

    Anshel kemudian berdiri dan menghampiri suster. “Iya, saya menantu keluarga Ruthven,” “Tuan, bisa ikut saya, dokter ingin bicara dengan Anda.”Anshel melirik pada istrinya sejenak. “Baik, saya akan bicara dulu dengan istri saya sebentar.”“Baik Tuan, silakan,” jawabnya seraya tersenyum ramah. Saat Anshel melangkah, wanita berusia dua puluh lima tahun itu menatap kagum. ‘Ah, jadi ini Tuan Anshel, cucu Raja Robinson,’ batinnya. Ia juga sempat melihat Fleur yang terbaring. ‘Kasihan keluarga Ruthven, untung saja Putrinya selamat,’ ucapnya dalam hati dengan rasa empati. Anshel mengelus rambut Fleur, “Fleur aku tinggal sebentar, kau tenang saja ada pengawal yang menjagamu.”Fleur mengangguk pelan, Anshel pun mencium keningnya, seolah enggan meninggalkannya, Anshel juga mencium kedua tangan istrinya, lalu meninggalkannya sendiri, tangannya pun perlah

  • Ceraikan Aku, Tuan Anshel   Bab 108 - Aku Tidak Akan Marah

    Mobil Anshel sedang menuju ke kediaman Ruthven, untuk menjemput istrinya, ponselnya  bergetar. Ia sempat menautkan alisnya saat melihat nomor yang memanggilnya. “Selamat siang, apakah anda Tuan Anshel Robinson Noble?”Anshel menjawab dengan santai, “Iya saya sendiri, maaf ini dengan siapa?”Polisi itu bicara dengan tegas dan sopan, “Saya Peter, petugas keamanan lalu lintas.”“Baik, apakah ada yang bisa saya bantu?”“Tuan, apakah anda berada di tempat yang aman, atau sekarang anda sedang menyetir?”Perasaan Anshel mulai tidak enak, ia semakin penasaran. “Tidak, saya bersama sopir saya.” “Syukurlah,” timpal polisi itu, ia mencoba berkomunikasi setenang mungkin, “Tuan jangan panik, istri anda…”Mendengar kata “Istri” Anshel  langsung memotong pembicaraan  polisi tersebut. “Istri saya, apa yang terjadi pada istri saya, Tuan Peter? “Tua

  • Ceraikan Aku, Tuan Anshel   Bab 107 - Danau Forest

    “Ayah… maafkan aku. Aku tak bisa menepati janjiku,” batin Philippe.Mobil keluarga Ruthven terjun bebas ke dalam danau. Benturan keras membuat tubuh Philippe menghantam setir. Airbag mengembang di hadapannya, namun benda itu pun akhirnya mengempis seketika sepertinya ada gangguan pada sistem inflator karena guncangan, kepalanya juga terbentur sisi jendela hingga pandangannya seketika mengabur. Dari kejauhan, seorang pengendara mobil  yang melintas melambatkan kecepatannya, ketika melihat serpihan kaca dan body mobil berserakan di tepi jalan pembatas yang rusak. Ia langsung menepikan kendaraan dan turun, lalu menghubungi polisi.▫️▫️▫️‘Ayah… Ibu… sepertinya kami akan menyusul kalian,’ pikir Fleur panik.Di kursi samping, tubuh Clement terhempas ke dashboard dan kaca mobil. Darah mengalir dari pelipis pria tua itu sebelum akhirnya ia tak bergerak sama sekali.Philippe sempat mencoba me

  • Ceraikan Aku, Tuan Anshel   Bab 106 - Akhir Keluarga Ruthven?

    Philippe menggebrak meja makan hingga membuat Fleur dan Smith terperanjat. “Aku akan membuktikan di pengadilan kalau ini semua ulah Tuan Anderson, dan Ayah sudah dijadikan kambing hitam demi kepentingannya,” geramnya dengan tatapan yang tajam. Smith dan Fleur masih terdiam. Philippe melanjutkan ucapannya, sambil mengepalkan tangan dan meninju pelan di atas meja. “Kalau dia sampai mangkir memberi kesaksian, aku akan menyeretnya.”Smith menghela napas, kemudian berdiri, “Aku setuju denganmu,” ucapnya sambil menepuk bahu Philippe.Pengacara itu melirik secara bergantian ke arah putra dan putri mendiang Tuan Ruthven itu, “Kalau kalian sudah siap, sebaiknya kita berangkat sekarang,” ajaknya. Fleur mengangguk dengan pelan, ia segera meraih tasnya dan sempat merapikan rambutnya. Ketiganya pun mulai beranjak dari posisi masing-masing dan segera menuju mobil. Di sepanjang perjalanan mereka tidak banyak mengobrol, justru Smith menelepon tunangannya, sementara Fleur dan Philippe melamun.

  • Ceraikan Aku, Tuan Anshel   Bab 83 - Harapan yang Terlalu Dini

    ​Fleur hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan, menatap punggung suaminya yang tengah mengobrol dengan mertuanya. Tingkah Anshel benar-benar di luar nalar, pria itu seolah sudah menyiapkan pesta penyambutan hanya karena dirinya muntah-muntah. Karena tubuhnya masih terasa sangat lemas, Fleur memili

  • Ceraikan Aku, Tuan Anshel   Bab 82 - Mimpi di Musim Panas

    ​Begitu sampai di teras rumah, Fleur tidak bisa menahannya lagi. Ia berlari menuju kamar mandi terdekat dan... hoek! Ia memuntahkan isi perutnya. "Fleur? Kau baik-baik saja?" Anshel mengetuk pintu, suaranya bergetar.Saat ia membuka pintu kamar mandinya tidak di kunci, ia pun masuk sempat mengelus

  • Ceraikan Aku, Tuan Anshel   Bab 81 - Harga dari Sebuah Kejahilan

    “Anshel, berhentilah menempel padaku, aku ingin bersama ibumu, apa kau tidak mau mengalah hari ini saja,” bisiknya sambil cemberut, karena kurang nyaman. Anshel menjawab dengan nada sangat pelan, “Setiap hari aku bekerja, bahkan kau tidak mau aku menyentuhmu,”“Tapi kau sering mencuri ciuman darik

  • Ceraikan Aku, Tuan Anshel   Bab 80 - Anggur yang Manis dan Panas

    Fleur dan Philippe sudah turun dari kuda. Di ujung lintasan, Fleur berteriak menyemangati para peserta dengan antusias. Anshel masih memimpin di depan, sementara Smith tertinggal beberapa meter di belakangnya.​“Cepatlah, Black! Kita harus mengalahkan menantu majikanmu!” seru Smith sambil menghimp

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status