Home / Rumah Tangga / Ceraikan Aku, Tuan Anshel / Bab 4 - Terkurung Di Dalammu

Share

Bab 4 - Terkurung Di Dalammu

last update Huling Na-update: 2025-11-26 09:34:27

“Hari ini aku banyak waktu. Ada yang mau kamu bicarakan?”

Fleur tersenyum getir, menatap suaminya.

“Banyak waktu untukku atau kekasihmu?” tanyanya getir. Suaranya yang gemetar kalut dengan keteguhan. 

“Jangan mulai.”

Fleur memutar mata malas. Jangan mulai. Jangan mulai. 

Sejak kapan mereka memulai hubungan ini?

Sejak kapan mereka pernah memulai?

“Ada yang ingin aku bicarakan.” cecarnya seraya keluar dari ruangan kecil itu, melangkah menuju ruang tengah. Anshel mengikutinya dari belakang, langkahnya tenang.

Keduanya duduk di ruang tengah dengan cahaya lampu temaram yang menyorot meja kayu. Fleur menatap map di tangannya, dadanya berdebar.

“Aku ingin kita membicarakan soal kontrak.” katanya, mencoba menahan amarah.

“Kau masih membicarakan kontrak itu?” jawab Anshel seraya menatap Fleur tanpa berkedip.

“Ya, tentu saja,” tegas Fleur. “Kau tidak pernah memberitahuku, tapi mengubah pasal-pasal seolah aku tidak punya suara. Apa maksudnya?”

Anshel menunduk sebentar, menatap map itu. “Ini untuk kebaikan kita,” katanya, nada datar tapi tegas. “Bukan karena aku ingin mengendalikannya… setidaknya, bukan sepenuhnya.”

Fleur menatapnya tajam, napasnya tersengal. “Bukan untuk mengendalikanku? Katakan dengan jelas, kebaikan apa itu?”

Anshel menelan ludah, menahan sesuatu yang ingin ia katakan. Ia memandang Fleur, melihat luka di matanya, dan rasa bersalah menggerayangi dadanya.

“Kenapa memangnya? Kenapa kamu meminta pergi?”

Fleur terdiam, dadanya berdebar kencang. “Tidak ingin aku pergi… tapi kau juga tidak pernah hadir saat aku butuh. Apalagi saat pemakaman ayahku tiga hari lalu… kau tidak ada.”

Anshel menutup mata sejenak, memusatkan pikirannya. “Aku sudah mengatakan padamu, itu karena aku sibuk dengan pekerjaanku. Mengapa hal ini perlu kamu ributkan, Fleur?”

Fleur menggigit bibir, hatinya campur aduk antara sakit, marah, dan rasa penasaran. “Kalau begitu, apa maksudmu?”

Anshel melangkah mendekat, jarak mereka tinggal beberapa langkah. “Aku ingin kita selesaikan ini bersama. Aku ingin kau tetap di sini, bukan karena kontrak, tapi… karena aku tidak bisa membiarkanmu pergi.”

Fleur menatapnya. Perkataan itu terdengar benar, tapi terasa menjeratnya dalam perangkap baru. Ia ingin lari, tapi setiap langkahnya terasa tertahan.

Ponsel Anshel bergetar di meja. Ia menatap layar sebentar, lalu menundukkan kepala. Fleur memperhatikannya, merasa ada sesuatu yang tidak ia ketahui. Salah paham mulai merayap lagi.

“Siapa?” tanyanya, suara lirih.

“Urusan perusahaan,” jawab Anshel singkat. “kau tidak perlu tahu semua detailnya.”

Fleur menelan ludah, menatap map di tangannya, kontrak ini bukan hanya sekadar dokumen, ini perang tanpa kata yang nyata. Dan ia sedang di tengahnya.

Anshel menatapnya lama, seolah membaca setiap keraguan di wajah Fleur. “Jangan coba pergi, Fleur,” katanya pelan. “Kalau kau benar-benar berniat meninggalkan semua ini… aku tidak akan tinggal diam.”

Fleur menggigit bibir, menahan tangis yang urung keluar. Ia ingin berteriak, melawan, pergi… tapi… ia tidak bisa begitu saja. Dan Anshel, diam-diam, sudah tahu itu rencananya. 

Ternyata benar, dinding di rumah ini memang bisa mendengar semua rahasia dan menangkap apapun yang ku bisikkan. Batinnya. 

Suasana menjadi sunyi, hanya suara detak jam yang terdengar. Fleur menoleh ke jendela, melihat hujan sore masih rintik, membasahi taman di bawahnya. Ia merasakan sakit yang menumpuk, bukan hanya karena kontrak, tapi karena kesendirian yang ia rasakan. Suami yang seharusnya menemaninya, kini seperti bayangan jauh.

Anshel melangkah lebih dekat lagi, tapi tetap menahan diri. Ia ingin meraih tangan Fleur, ingin menenangkan, tapi ia menahan, belum saatnya. Ia tahu jika kini ia menyerah pada perasaannya, risiko yang mengintai Fleur bisa jadi nyata.

Tangannya dihempaskan sebelum mendarat dalam genggaman.

“Jangan kamu pikir hanya kamu yang punya masalah.”

Fleur menundukkan kepala, hatinya campur aduk. Ia sadar bahwa kontrak bukan satu-satunya perang yang harus ia hadapi. Ada sesuatu yang lebih besar, rahasia, ancaman, dan perasaan yang tertahan, yang kini membuatnya merasa lebih terjebak daripada sebelumnya.

“Tidak semuanya harus kamu tau jawabannya, Fleur.” nadanya dingin. "Tidurlah. Jangan meminta sesuatu yang sudah pasti tidak akan aku penuhi."

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Ceraikan Aku, Tuan Anshel   Bab 46 - Gairah di Atas Janji

    Anshel membuka pintu kamar, ia kemudian merebahkan tubuh Fleur di ranjang, heels-nya terlepas begitu saja, ia menggigit bibir Fleur, ciumannya turun ke leher. Fleur sedikit bersuara.Tangan besar pria itu meremas pinggul Fleur, ia mencoba membuka resleting dressnya Fleur.Fleur tiba-tiba menghentikan tangannya. “Berhenti!”Anshel menghentikan ciuman dan gerakan tangannya, ia mengangkat sedikit wajahnya, “Kenapa, apa kau belum siap?”Fleur menatapnya ragu, kemudian rasa mual menyerang perutnya, ia mendorong Anshel dan berlari menuju wastafel. Anshel menghampiri Fleur.Ia mengusap punggung Fleur, dengan cepat mengambil air putih dan tisu lalu diberikan padanya. Fleur meraih gelas itu. Akan tetapi Anshel mengambil kembali tisu itu dan membantu istrinya melap bibirnya terlebih dahulu. Lalu Fleur meneguk air putih itu. “Berapa gelas wine yang kau minum, Fleur?” Fleur menggeleng, lemah. Selesai minum Anshel mengambil gelas itu di sisi wastafel lalu mengangkat Fleur. “Jangan lakukan

  • Ceraikan Aku, Tuan Anshel   44 - Asumsi Yang Membakar

    Seorang pria mengulurkan tangannya, siap mendorong Fleur dari balkon yang tinggi.​“Fleur!” teriak Anshel yang baru saja tiba di sana dengan napas memburu.​Pria itu menoleh kaget, sementara Fleur tersentak menyadari maut mengintip di belakangnya. Secara refleks, Fleur melayangkan tinju ke wajah pria itu dan mencoba berlari, namun si penyerang lebih cepat—ia menyambar pergelangan tangan Fleur dengan kasar.​Anshel berlari secepat kilat, namun langkahnya terhenti seketika saat pria itu berhasil memiting Fleur. Ia memutar tubuh Fleur, memelintir tangan kirinya ke belakang punggung, dan mendekap tubuh wanita itu erat dari belakang sebagai sandera.​“Jangan mendekat! Diam di sana, setidaknya tunggu sampai rencanaku berhasil,” seringai pria itu, tampak menikmati ketakutan di wajah Anshel.​“Lepaskan dia, atau aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri!” ancam Anshel dengan suara rendah yang bergetar karena amarah.​Alih-alih takut, pria itu justru menarik bibirnya membentuk senyum sinis.

  • Ceraikan Aku, Tuan Anshel   Bab 44 - Di Balik Cahaya Pesta

    “Jangan menciumku lagi,” ucap Fleur pelan, meski pipinya memanas dan jantungnya berdegup tak karuan.Ia menunduk, seolah kalimat itu ditujukan pada lantai di antara mereka. Aku tidak boleh membiarkan ini berlanjut, pikirnya. Bukankah dua tahun lagi kami akan berpisah?Anshel terdiam. “Kenapa?”Fleur menghela napas pendek. “Karena kau akan segera membebaskanku. Aku tak ingin terikat pada sesuatu yang… tidak seharusnya.”Tangan Anshel terangkat, mengusap pipinya, dan…Fleur memejamkan mata sesaat—lalu menepisnya dengan perlahan.“Sudah malam. Aku lelah, Anshel.”Anshel menarik napas dalam, mengusap tengkuknya sendiri sebelum mengangguk. Senyum tipis terbit di wajahnya, meski ada sesuatu yang runtuh di dadanya.“Baik,” katanya pelan.Mereka lalu melangkah menuju kamar, berdampingan—namun dengan jarak yang terasa lebih jauh dari sebelumnya.Di dalam kamar setelah mencuci wajahnya dan berganti pakaian Anshel mengambil satu bantal dan membawanya ke sofa. Fleur baru saja keluar dari kamar ma

  • Ceraikan Aku, Tuan Anshel   Bab 43 - Koridor Malam

    “Cantik?” tanya Fleur, menyinggung Caroline—putri Tuan Johnson.Anshel menengadah, meletakkan pisau dan garpunya dengan hati-hati. Tatapannya sempat menelusuri wajah Fleur, mencari tanda-tanda kecemburuan. Namun yang ia temukan justru ketenangan—dan senyum tipis di bibir istrinya.Ia ikut tersenyum. “Ya, cantik.”Fleur berhenti mengiris dagingnya sejenak, lalu mengangguk pelan sambil menyunggingkan senyum kecil, seolah jawaban itu memang tak mengejutkannya.Saat Fleur hendak meneguk wine, Anshel menahan gelasnya. Sentuhan tangan mereka tak terhindarkan—hangat dan singkat.“Jangan minum lagi,” ucap Anshel pelan. “Besok kita harus menghadiri pernikahan Pangeran Magnus. Kau perlu menjaga kondisi tubuhmu.”Fleur menurunkan pandangannya ke tangan Anshel yang masih menyentuh jemarinya. Sesaat kemudian, Anshel menarik tangannya kembali.Fleur hanya mengangkat bahu ringan, seolah tak mempermasalahkan. Usai makan malam, Anshel sempat bersosialisasi dengan beberapa tamu undangan. Fleur pun di

  • Ceraikan Aku, Tuan Anshel   Bab 42 - Jamuan Makan Malam Kerajaan

    “Kau ke mana saja?” keluh Fleur yang sudah rapi dan siap berangkat. “Maaf, tadi aku keluar sebentar, cari angin,” jawab Anshel. Namun sejak kembali ke kamar, tatapannya tak lepas dari istrinya, seolah memastikan Fleur benar-benar ada di hadapannya. “Aku mandi dulu sebentar?” ujarnya kemudian. Fleur mengangguk kecil. “Hmmm.” Anshel segera bergegas ke kamar mandi. Sementara itu, Fleur duduk menunggu di sofa dekat jendela, tangannya meraih majalah yang tergeletak di atas meja kecil hotel. Ia membuka lembar demi lembar dengan santai, menikmati waktu luangnya. “Oh… ini wajah Pangeran Magnus saat sudah dewasa,” gumam Fleur pelan. “Ternyata tampan juga.” Saat jemarinya hendak membuka halaman berikutnya—yang menampilkan foto Putri Madison—rasa haus tiba-tiba menyerang. Fleur bangkit, berjalan ke sisi kanan kamar, membuka kulkas kecil, lalu mengambil sebotol air mineral. Ia meneguknya perlahan sebelum meletakkan kembali botol itu ke meja. Pandangan Fleur kemudian berkeliling, mene

  • Ceraikan Aku, Tuan Anshel   41 - Undangan dari Kerajaan Vugge

    “Baiklah, Bu. Aku tidak akan bertanya saat ini.”Anshel menutup teleponnya. Namun ia sempat berpikir sesaat seolah sedang mencari jalan keluar dari masalahnya. Kemudian CEO Noblecrest Group itu meninggalkan kantor dan kembali ke mansion karena pekerjaannya sudah selesai. ◾️◾️◾️⚫⚫⚫◾️◾️◾️Satu minggu kemudian.Anshel dan Fleur bersiap untuk menghadiri pesta pernikahan Pangeran Anshel, negara Vugge. Semua barang telah dimasukkan ke bagasi, pintu mobil ditutup, dan kendaraan itu melaju menuju bandara. Jalanan tertutup salju tipis, sunyi, hanya suara mesin yang menemani perjalanan mereka.Fleur melirik Anshel dari kursi sebelah. Wajah suaminya tampak lebih murung dari biasanya.“Anshel,” katanya akhirnya, “...apa di perusahaanmu ada masalah?”Anshel menoleh sekilas, lalu kembali menatap jalan. “Tidak,” jawabnya singkat. “Aku hanya khawatir meninggalkan seseorang.”“Maksudmu Ava Grace?” Fleur menimpali.Anshel menyatukan alisnya, bibirnya tertarik tipis ke satu sudut. “Kenapa dia?”“I

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status