Setelah bertengkar hebat dengan suaminya, Andin terduduk dilantai marmer yang dingin. Disana, ia menangis tanpa suara. Air matanya membasahi baju bagian depan, sedangkan lututnya terluka akibat pecahan gelas yang dilemparkan sang suami saat marah tadi. Hampir tiga puluh menit, gadis itu masih setia duduk dengan posisi yang sama. Lututnya yang berdarah, seolah tidak menyakitkan baginya. Sakit di hati, lebih melukai gadis itu. Setelah puas menangis, perlahan gadis itu bangkit. Kini barulah ia menyadari bahwa lututnya berdarah. Mengabaikan hal itu, ia segera menuju kamarnya. Di dalam kamar, gadis itu langsung berbaring di ranjangnya. Tanpa mengganti baju atau mengobati luka dilututnya. Kata-kata sang suami, jauh lebih menyakitkan dari sekedar luka kecil pada lututnya. Gadis itu merasa putus asa. Selain Mia sahabatnya, ia tidak berani bercerita masalah rumah tangganya pada siapapun. Termasuk pada kedua orangtuanya. Ia marah. Marah pada keadaan, marah pada dirinya sendiri yang ti
Last Updated : 2025-12-26 Read more