Share

Bawa mobil kedua

Penulis: Risya Petrova
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-31 23:57:19

Keheningan di ruang tengah villa itu terasa begitu pekat, seolah-olah oksigen di sana telah habis terbakar oleh ketegangan emosional beberapa saat lalu. Meysa menyibukkan diri dengan merapikan peralatan menulisnya, sementara Wildan masih mematung menatap tetesan air yang jatuh ke dalam ember. Tetesan yang kini terdengar seperti detak jam dinding yang menghitung mundur kesabaran mereka.

"Sini, biar aku ganti perbannya dulu," ucap Meysa memecah kesunyian. Suaranya datar, mencoba mengembalikan tameng profesionalitasnya.

Wildan tidak membantah. Ia hanya mengangguk pelan dan mengulurkan tangan kirinya. Meysa dengan telaten membuka balutan kain kasa yang sudah mulai kotor.

Ia bernapas lega saat melihat luka jahitan Wildan masih kering dan tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi, meskipun kulit di sekitarnya tampak sedikit memerah.

"Untung lukanya nggak kena air," gumam Meysa pelan.

Namun, saat ia meraih kotak P3K milik Wildan yang tadi sempat diletakkan di bawah meja, daerah yang terkena rem
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Sentuhan Panas Editorku   Memberi kehangatan saat hujan badai

    Meysa menarik selimutnya hingga menutupi dagu. Hawa dingin Puncak malam ini terasa berkali-kali lipat lebih menusuk karena ia merasa sendirian. Padahal, hanya berjarak satu meter darinya, ada Wildan. Namun, pembatas kain sprei putih itu seolah menjadi tembok raksasa yang memisahkan dunia mereka kembali.Lidah Meysa terasa kelu. Berkali-kali ia membuka mulut, ingin memanggil nama Wildan, ingin memintanya kembali duduk di sisi ranjangnya, atau sekadar memintanya bicara agar suasana tidak semencekam ini. Namun, gengsi yang masih tersisa dan ketakutan akan penolakan membuat suaranya tertahan di tenggorokan.‘Tadi dia bilang 'Aku suamimu', tapi sekarang dia malah balik ke ranjangnya sendiri dengan nada sedingin itu,’ batin Meysa pilu.Ia meratapi betapa cepatnya takdir mempermainkan perasaan manusia. Baru saja mereka tertawa kecil karena cerita hantu bodoh, baru saja ia merasakan debaran jantung yang menggila saat wajah Wildan hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya, kini semuanya beru

  • Sentuhan Panas Editorku   Ingin bobo berdua lagi

    "Andi ... asisten Pak Adam yang kirim pesan ini," gumam Wildan, suaranya terdengar hampa. Matanya masih terpaku pada layar ponsel yang menunjukkan detail lokasi rumah sakit di daerah Cisarua, tak jauh dari gerbang tol Gadog.Meysa menutup mulut dengan telapak tangan, tubuhnya gemetar. Rasa benci dan kesalnya pada Fiona menguap seketika, berganti dengan rasa nger dan juga kasihan. "Parah banget ya, Wil? Sampai masuk jurang? Ya Tuhan ... baru saja mereka pergi dari sini."Wildan segera bangkit dari posisi berbaringnya. Ia mengacak rambutnya dengan frustrasi. Instingnya menyuruhnya untuk segera meluncur ke rumah sakit, memastikan keadaan pimpinannya yang sudah dianggapnya seperti orang tua sendiri, sekaligus melihat kondisi Fiona."Aku harus ke sana, Meys. Aku harus lihat kondisi Pak Adam," ujar Wildan cepat. Ia menyambar jaketnya yang tersampir di kursi. Namun, langkahnya terhenti di depan pintu kamar. Ia terdiam, bahunya merosot lesu saat logika kembali menghantam kepalanya."Tapi ...

  • Sentuhan Panas Editorku   Kecelakaan

    “Wildan ... makasih ya buat semuanya. Makasih sudah selalu membantuku, bahkan di saat aku sendiri hampir menyerah sama kelakuanku," ucap Meysa pelan. Suaranya tulus, mengalun lembut di antara suara hujan yang menghantam atap villa.Wildan yang masih menatap langit-langit kamar merasakan dadanya berdesir. Pujian sesederhana itu dari Meysa ternyata punya efek yang lebih dahsyat dari pada bonus tahunan dari Pak Adam. Sudut bibirnya nyaris berkedut membentuk senyuman, namun ia segera mengeraskan otot wajahnya. Gengsi setinggi langitnya masih bertahan kokoh.Ia berdeham kecil, mencoba menormalkan suaranya yang mendadak terasa kering. "Tumben kamu bilang makasih ke aku tanpa disuruh? Kamu ... nggak lagi mabuk anggur lagi, kan?"Pertanyaan itu meluncur begitu saja, berniat untuk mencairkan suasana. Namun, bukannya tertawa, keduanya justru terdiam seketika. Kata 'anggur' seolah menjadi mantra yang menarik ingatan mereka kembali ke beberapa minggu lalu.Kejadian konyol saat mati lampu di apart

  • Sentuhan Panas Editorku   Tidur di satu ranjang yang sama

    "Masih takut?" tanya Wildan. Suaranya terdengar datar, nyaris tanpa emosi, namun frekuensinya yang rendah entah bagaimana berhasil menyusup ke dalam gendang telinga Meysa dengan cara yang menenangkan. Tidak ada lagi nada ejekan terang-terangan seperti sebelumnya, hanya ada sisa-sisa ketegasan yang menjadi ciri khasnya sebagai editor yang dingin.Meysa menggeleng pelan, meski tangannya masih memegang erat lilin putih yang kini menjadi satu-satunya sumber kehidupan di dapur itu. "Sedikit. Tapi lebih mendingan karena ada lilin."Wildan menyandarkan punggungnya ke pinggiran meja dapur, melipat tangan di depan dada. Cahaya lilin yang temaram mempertegas garis rahangnya yang kokoh dan memberikan efek bayangan yang misterius pada wajahnya. "Atau karena ada aku?"Meysa merengut, meski ia tidak bisa menyembunyikan rona merah yang menjalar hingga ke telinganya. "PD banget sih jadi orang. Aku cuma butuh cahayanya, bukan orangnya."Wildan mendengus pendek, sebuah senyum tipis yang sangat sulit d

  • Sentuhan Panas Editorku   Ketegangan romantis

    Hujan yang turun di kawasan Puncak malam itu seolah-olah menjadi saksi bisu kemarahan langit yang tak terbendung. Suara rintik yang awalnya hanya berupa ketukan-ketukan halus di atas atap villa, kini telah bertransformasi menjadi gemuruh dahsyat.Angin kencang bertiup liar, sesekali menghantam jendela kaca dengan kekuatan yang cukup untuk menciptakan bunyi berderit panjang, seolah bangunan itu sedang mengerang kesakitan.Di tengah simfoni alam yang mencekam itu, Meysa melangkah dengan sangat pelan menuju dapur. Dengan gerakan mekanis, ia merapikan sisa-sisa makan malam di meja makan yang luas. Ia membungkus sisa nasi liwet yang masih menebarkan aroma rempah samar, serta lauk pauk lezat buatan Bi Aam ke dalam wadah-wadah plastik sebelum memasukkannya ke dalam lemari es. Namun, meski tangannya bekerja, pikirannya tertinggal di ruang tengah, tepat pada momen impulsif saat ia mendaratkan ciuman singkat di pipi Wildan yang sedang terlelap.“Bodoh banget sih, Meys! Kalau dia beneran bang

  • Sentuhan Panas Editorku   Ciuman manis

    Suara nada sambung di ponsel Wildan mendadak terputus. Bukan karena diangkat, melainkan karena suara operator yang menyatakan bahwa nomor yang dituju sedang tidak aktif. Wildan menjauhkan ponsel dari telinganya, menatap layarnya dengan kening berkerut dalam."Gimana, Wil? Pak Adam angkat?" tanya Meysa cemas. Ia berdiri sangat dekat dengan Wildan, hingga ia bisa mencium aroma maskulin bercampur sisa parfum yang masih menempel di jaket pria itu.Wildan menggeleng pelan. "Enggak. Sekarang malah dimatikan."Meysa mengerjapkan mata, rasa takut kembali merayap di dadanya. "Dimatikan? Kok bisa? Pak Adam kan orang bisnis, apalagi posisinya CEO. Nggak mungkin dia mematikan ponsel di jam-jam krusial begini, kan?""Itulah yang aneh," sahut Wildan sembari mencoba mengirim pesan singkat lewat aplikasi hijau. "Ceklis satu. Ini ganjil banget. Pak Adam selalu siaga, apalagi dia tahu kita lagi dikejar deadline besar. Masalah distribusi yang tadi dia bahas sama aku di beranda saja belum selesai detailn

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status