Matahari telah sepenuhnya terbenam, menyembunyikan sisa-sisa sinarnya di balik cakrawala. Pendar cahaya lampu-lampu pantai mulai mengambil alih, menerangi dinginnya malam yang perlahan merayap.Desiran ombak yang datang silih berganti terdengar menenangkan, seolah mampu meredam segala kegelisahan. Jam di pergelangan tangan Arsya hampir menunjukkan pukul tujuh malam.“Kita pulang jam berapa?” tanya Arsya pada istrinya yang masih berdiri menghadap laut, menikmati semilir angin malam yang menerpa rambut panjangnya.Amira berbalik, lalu berdiri dari duduknya. “Sekarang.”“Eh, bentar, Mira,” sela Sisil tiba-tiba. Ia segera menarik tangan sahabatnya itu. “Anterin aku ke kamar mandi dulu, yuk.”Tanpa menunggu jawaban, Sisil sudah menyeret Amira menjauh dari Arsya dan Ken. Kedua pria itu hanya mengawasi dari kejauhan, dengan ekspresi berbeda—yang satu datar, yang satu penuh tanda tanya.Begitu jarak mereka dirasa cukup aman dari pendengaran orang lain, Amira langsung membuka suara.“Sil, kamu
Terakhir Diperbarui : 2026-01-23 Baca selengkapnya