"Jauh banget duduknya Jen, kaya lagi marahan aja, maju dikit. Nanti kamu kejengkang aku yang jadi tersangka." "Perutku gendut, susah, kaya gini aja ya. Jangan kenceng-kenceng bawa motornya." "Siap bumil, aman kalau jalan sama aku mah." Regit benar-benar memelankan motornya, hingga membuat Jena berasa jalan kaki. Ini sih bukan pelan saja, tapi sangat lambat. Ya kali harus sedrama ini, kapan sampainya. "Re, masa pelan gini, yang normal-normal aja." "Siap tuan putri, sambil menikmati perjalanan Jen, bawa bumil tuh emang harus kalem," ujar Regit santai. Sebenarnya dalam hati nyesek cuma dijadikan teman. Tetapi sadar diri kalau sekarang Jena sudah bersuami, apalagi sedang hamil juga. Jadi, dekat seperti ini tanpa memiliki pun rasanya happy. Mencintai tidak harus memiliki, melihatnya bahagia dengan pasangannya, seharusnya dia juga bahagia. "Jen, boleh nanya?" "Apa, nggak denger," jawab Jena kurang jelas. Ternawa angin lewat. "Mau nanya agak privasi, jawab jujur ya, biar aku n
더 보기