Claudia mulai sesenggukan lagi, bahunya terguncang hebat menahan isak tangis yang terdengar sangat pilu. Dia bahkan sampai berlutut di atas karpet tebal di depan pintu kamarku, tidak mempedulikan harga dirinya yang selama ini dia junjung setinggi langit."Gue rela tidur di lantai kamar lo malam ini, Raf. Gue rela mijitin kaki lo, gue rela lakuin apa aja asal lo nggak natap gue kayak musuh. Gue nggak kuat kalau lo benci sama gue."Shella ikut berlutut di samping adiknya, air matanya mengalir deras membasahi pipinya yang kotor. Dia menangkupkan kedua tangannya di depan dada seperti orang yang sedang berdoa memohon ampunan."Aku juga, Raf. Tolong kasih kami kesempatan kedua. Jangan usir kami. Kami takut sendirian di kamar sana. Bayangan Mama yang jahat terus-terusan muncul di kepala aku kalau aku merem."Pemandangan dua wanita cantik yang berlutut dan menangis di hadapanku ini benar-benar menguji pertahanan aktingku. Aku menggigit bibir bawahku kuat-kuat, berusaha menahan kedutan di sudu
続きを読む