“Oh, i-iya, Non, maaf.” Di jok belakang yang sempit ini, Nona Claudia memelukku erat sekali, seolah-olah aku adalah guling hidup yang siap dia remas sampai kempes.Posisi duduk kami yang intim mau tidak mau membuat dua gundukan kenyal di dadanya menempel telak di punggungku. Setiap kali motor melibas polisi tidur atau lubang kecil di jalanan, guncangan itu menciptakan gesekan yang maha dahsyat."Mas Rafli!" Teriakan Nona Claudia tepat di samping telingaku."Eh, iya, Non? Kenapa? Ada yang ketinggalan?""Jangan lurus ke kampus! Belok kiri di depan, masuk ke area taman kota. Gue lagi males liat muka dosen dan temen-temen gue yang munafik itu.""Lho, tapi Non, nanti kalau Nona Shella tau saya nggak antar sampai lobi, saya bisa digulung jadi pepes! Nyonya Alika juga pesennya harus sampai kampus, Non.""Berisik! Gue bilang belok ya belok! Atau lo mau gue teriak 'penculik' sekarang juga biar lo digebukin massa?"Dengan hati dongkol dan pasrah, aku menyalakan lampu sein kiri, membelokkan moto
Last Updated : 2025-12-21 Read more