“Tidak, aku hanya bersyukur,” jawab Ravin sederhana seolah kalimat sebelumnya tidak berarti apa-apa. “Terserah, ku selesaikan panggilannya terlebih dulu. Aku akan mengabarimu jika sudah menemukan barang bukti yang ku … hancurkan,” ujar Aneya sedikit sungkan di akhir. “Baiklah, ku tunggu kabar berikutnya,” balas Ravin sebelum panggilan berakhir. Ponsel kembali sunyi. Aneya mempercepat langkahnya setengah berlari begitu memasuki pekarangan rumah. Cahaya lampu yang menembus jendela ruang tamu langsung menyambut pandangannya, pertanda kedua orang tuanya telah pulang lebih dulu. Aneya mengetuk pintu beberapa kali, jemarinya bergerak tak sabar sambil menunggu seseorang dari dalam membukanya. Tak lama kemudian, pintu terbuka pelan dan sosok ibunya muncul dari balik sana dengan senyum hangat yang selalu menyambut kepulangannya. “Ayo masuk, nak. Ibu baru saja membuat sup kesukaanmu,” kata Ibu Aneya mempersilakan masuk. Hanya anggukan ringan yang sempat Aneya berikan sebelum melangk
Read more