“Silakan,” jawab Aneya singkat memberi izin. “Terima kasih, nak,” sahut Ibu Aneya, “sudah hampir sebulan, Ibu beberapa kali melihatmu diantar pulang oleh seseorang.” Aneya mengurungkan diri ke kamar. Kalimat tersebut terdengar seperti sebuah wawancara yang akan ia lalui dan tidak akan bisa membuatnya berkelit. “Bagaimana … Ibu bisa tahu?” tanya Aneya dengan intonasi ragu. “Setiap kali suara deru mobil terdengar di pekarangan kita, Ibu menyempatkan diri melihatnya dari jendela,” jawab Ibu Aneya ringan sambil mengunyah buah apel. “Ternyata Ibu menguntitku,” canda Aneya terkekeh. Suasana berubah hangat, tawa keduanya memenuhi seisi dapur. Aneya memperhatikan Ibunya yang tengah menghabiskan buah apel cukup tergesa, seolah ada sesuatu yang harus diungkapkan padanya. “Bagaimana hubunganmu dengan Arya?” tanya Ibu Aneya dengan pelan. Aneya diam. Bibirnya refleks mengerucut, ia tidak tahu harus memulai cerita dari mana. Napas ditarik dengan perlahan, memenuhi setiap rongga di p
Read More