Detik dan menit berlalu, tidak ada tanda-tanda bahwa Aneya akan beranjak. Alih-alih keluar untuk mengambil udara segar atau mengisi perut, ia memilih untuk memeriksa kembali pekerjaannya. “Semuanya sudah lengkap dan aman, apa lagi yang akan ku kerjakan sore nanti? Atau mungkin Ravin ingin menginformasikan kerjaan tambahan lagi?” tanya Aneya bergumam dalam sunyi. Ia tidak tahu harus membunuh waktu dengan cara seperti apa lagi sembari menunggu konfirmasi dari Ravin. Rasa kantuk tidak bisa dibendung, Aneya kemudian menumpu kepalanya pada lengan yang dilipat di atas meja, seolah mencari posisi paling nyaman untuk terlelap. “Sepertinya mengambil waktu untuk tidur siang sedikit bukan masalah besar,” kata Aneya pelan sambil menutup kedua kelopak matanya. Di alam bawah sadar, Aneya sudah tidak peduli akan dunia nyata yang tengah dihadapi. Namun, ketenangan itu hanya berlangsung beberapa menit saat indra pendengarannya menangkap suara ketukan pintu. Masih dengan nyawa yang belum tert
Read more