Pintu mobil terbuka, membuat pandangan Aneya leluasa menangkap tempat di hadapannya dengan jelas. Matanya sempat menyapu sekitar beberapa detik, ia kemudian turun dari mobil dengan gerakan pelan. Langkahnya terasa begitu hati-hati, seolah ada keraguan yang masih menahan. Dari tempatnya berdiri, netra Aneya perlahan memindai taman. Beberapa pasangan tampak menghabiskan sore bersama sambil berbagi tawa kecil, sementara di sudut lain ada orang-orang yang tenggelam dalam kesibukan masing-masing seperti menikmati kopi, memainkan ponsel, atau sekadar duduk santai menikmati suasana. “Sepertinya aku perlu mengabari Ravin,” batin Aneya yang langsung meraih ponselnya. Obrolan mereka masih menggantung di ruang percakapan tersebut, ia teringat bahwa sempat mengabaikan pertanyaan dari Ravin. Alih-alih menjawab hal tersebut, ia justru merangkai sebuah kalimat untuk pesan berikutnya. “Aku sedang mampir di sebuah taman, aku tidak tahu ini di mana,” celetuk Aneya dalam pesannya. “Benarkah? B
Read more