“Diralat, bukan hampir lupa, tapi memang aku yang lupa memberitahumu,” jawab Ravin sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Aneya memutar bola matanya. Ia kemudian bersedakap dada seolah menunggu penjelasan berikutnya dari Ravin. “Aku … maksudku … kita berdua terlalu fokus dengan hal yang berada di ruanganmu, jadi … aku sebenarnya akan memberitahukan hal itu sebelum pulang, tapi aku juga tidak ingin mengganggu istirahatmu,” lanjut Ravin terbata-bata. Semburat merah muda di pipi Aneya sedikit memanas saat mendengar kalimat awal yang dilontarkan Ravin. Namun, untuk poin penting dari penjelasan itu cukup ditangkap olehnya. “Bagaimana jika ku buatkan memang malam ini?” tanya Aneya meminta saran. “Jangan dulu, aku akan berangkat dua hari kedepan,” cegat Ravin, “ada klien lama yang memintaku untuk mendiskusikan proyek baru,” “Baiklah kalau begitu,” ucap Aneya pasrah sambil menghela napas. “Kalau kau tidak sibuk, aku berencana akan ikut membawamu bertemu mereka, tapi itu b
Read More