เข้าสู่ระบบTing!Pintu lift terbuka. Koridor lantai lima belas terhampar sunyi, hanya lampu-lampu temaram yang menyala rapi di sepanjang dinding. Birru melangkah lebih dulu, jemarinya menggenggam tangan Jennar dengan mantap. Kain hitam tipis menutup mata Jennar, membuat setiap langkah terasa asing sekaligus menegangkan.“Ruu…” Jennar melangkah hati-hati. “Apa memang harus begini?”“Harus,” jawab Birru ringan, senyumnya terasa meski tak terlihat. “Biar deg-degannya nggak setengah-setengah.”Jennar terkekeh kecil, berusaha menenangkan diri. Gelap membuat indra lain bekerja lebih tajam—suara langkah Birru, hangat telapak tangannya, bahkan detak jantungnya sendiri yang semakin cepat.“Sebenarnya, ada apa sih di apartemen kamu?” tanya Jennar, penuh penasaran.“Ada aku,” jawab Birru singkat, lalu menambahkan pelan, “dan semua niat baikku.”Kalimat itu saja sudah cukup membuat Jennar tersenyum gugup.Mereka akhirnya berhenti, Birru melepaskan genggaman tangannya sesaat.“Kita sudah sampai. Tunggu ya,”
Birru menempelkan ponsel ke telinganya. Dari ujung sana, suara lembut mengalir pelan, menghangatkan dadanya. “Hai, Ruu…” Birru tersenyum tanpa sadar. “Sayang, aku berangkat dulu.” “Hati-hati ya, Ruu. Kabari kalau sudah sampai bandara.” “Iya, siap, Jennar-ku. I love you,” katanya penuh cinta. “Love you more.” “Bye, Sayang.” “Bye, Ruu…” Panggilan pun berakhir. Birru mengambil jaket dari lemari, lalu dengan cepat menyampirkannya ke tubuhnya. Ponsel ia masukkan ke dalam saku, langkahnya mantap keluar kamar. “Kak, sudah siap?” serunya sambil berhenti di depan pintu kamar Alexa. “Sebentar! Lima menit!” jawab Alexa dari balik pintu. “Oke, aku tunggu di depan,” balas Birru. Ia mengambil kunci mobil dari atas buffet, melewati ruang tamu yang masih sunyi, lalu mengenakan sepatu di depan rak. Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka. Alexa keluar sambil menenteng tas, rambutnya tersisir rapi, wajahnya tenang seolah siap menghadapi orang tua dengan segudang ekspektasi.
“Nggak penting sejak kapan, Kak.” Suara Birru mantap, nyaris tanpa jeda ragu. Jemarinya mengait tangan Jennar, seolah ingin menegaskan kalimat berikutnya. “Yang pasti aku mencintai sahabat kakak. Dan aku serius sama Jennar.”Dada Jennar berdegup lebih kencang. Ia tak berani menatap Alexa terlalu lama, hanya menunduk sebentar, merasakan hangat telapak tangan Birru yang menenangkan kegelisahan di perutnya.Alexa mengembuskan napas panjang, sorot matanya berpindah dari wajah adiknya ke Jennar. “Dik, kamu tau kan peraturan tak tertulis di keluarga kita soal jodoh?”Birru mengangguk cepat, tanpa ragu. “Tahu, Kak. Dan aku siap dengan semua konsekuensinya.”Jennar menelan ludah. Kata konsekuensi bergaung di kepalanya, tapi genggaman Birru tak melemah—justru makin hangat, memberi isyarat bahwa ia tidak sendirian.Tatapan Alexa melembut, tapi bayang kekhawatiran tak sepenuhnya hilang saat perempuan itu menyandarkan punggung di sofa. Hubungan yang baru saja terungkap ini jelas bukan perkara rin
Pukul setengah enam pagi, Jennar baru saja hendak melangkah keluar kamar ketika sosok Ghea sudah berdiri di ambang pintu. Rambut gadis itu masih basah, ujungnya menetes ke kaus tipis yang dikenakannya. Handuk kecil melingkar di lehernya, sementara sorot matanya tampak ragu, seolah ada sesuatu yang ingin ia sampaikan, tapi belum sepenuhnya siap.Jennar berhenti, tangannya masih menggenggam gagang pintu. “Ada apa, Ghea?” tanyanya lembut.Ghea menatap Jennar sebentar, lalu menunduk. “Mbak, aku mau bicara sesuatu.”“Sekarang?” Jennar melirik jam dinding. Jarumnya hampir menyentuh angka enam. “Tentang apa?”“Pelaksanaan KKN semester depan, Mbak.”Jennar menyandarkan bahu ke kusen pintu. “Lama nggak? Mbak mau kerja.”“Nggak lama, kok,” Ghea cepat menyela, lalu menarik napas kecil. “Aku juga sebentar lagi mau siap-siap ke kampus. Aku cuma mau bilang, biayanya harus dilunasi minggu depan.” Ia berhenti sejenak, menimbang kata. “Jadi, kalau hari ini, boleh?”Jennar menatap Ghea. “Berapa?”“Tiga
Jennar menghela napas berat sambil merapikan kerah blazernya. Ujung jarinya menepuk-nepuk lipatan kain agar tampak rapi. Di cermin lift, wajahnya terlihat pucat dengan mata yang masih menyimpan sisa kantuk.“Tarik napas, fokus, Jennar,” bisiknya pelan.Lift berdenting lembut saat tiba di lantai lima.Begitu pintu terbuka, Jennar melangkah keluar. Alih-alih langsung menuju ruang divisinya, ia berbelok ke pantri di depan divisi lain. Di sana, ia meraih sebuah mug dari rak, meletakkannya di bawah mesin kopi, lalu menekan tombol. Mesin berdengung rendah, mengisi ruangan dengan aroma kopi yang mulai menguar.Jennar duduk di kursi tinggi, menyandarkan punggungnya yang lelah.“Pagi, Jen!” sapa Helena yang baru masuk pantri.“Hai, Mbak!” balas Jennar dengan senyum meski tampak lelah.Helena melirik mesin kopi. “Tumben sudah bikin kopi sepagi ini?”Jennar terkekeh kecil sambil mengusap tengkuknya. “Iya, Mbak. Aku baru balik dari Puncak. Sampai rumah hampir jam dua belas malam. Masih ngantuk ba
Jennar terbangun tepat pukul lima pagi ketika udara di kamarnya menusuk tajam, merayap dari sela-sela jendela hingga ke tulang. Ia menggeliat kecil, lalu refleks menahan napas saat menyadari ada lengan yang melingkar erat di pinggangnya.Sesaat jantungnya berdegup kencang.Namun begitu ingatan tentang malam panas menyusul, Jennar mengendur. Ia tersenyum kecil. Di belakangnya, ada Birru. Pria yang selalu berhasil membuatnya merasa pulang.Gerakan kecil Jennar rupanya cukup terasa.“Kamu udah bangun?” bisik Birru, suaranya masih serak oleh sisa tidur.“Udah, Ruu,” jawab Jennar lirih.Birru mengeratkan pelukannya, menarik tubuh Jennar lebih dekat hingga punggungnya menempel sempurna ke dada pria itu. Ujung hidung Birru menyentuh rambut Jennar.“Dingin banget, Sayang…” gumamnya malas.“Hmm. Makanya aku kebangun.”Birru menggeser tangannya, mengusap lengan Jennar perlahan, seolah ingin memindahkan hangat tubuhnya ke sana. “Mau tidur lagi?”Jennar menghela napas kecil, ragu. “Ruu… kamu ngga







