Home / Romansa / Sentuhan Adik Sahabatku / Bab 27. Rindu Yang Dijaga.

Share

Bab 27. Rindu Yang Dijaga.

Author: eslesta
last update Last Updated: 2026-01-01 09:36:35

Birru memperlambat laju mobil saat papan nama Grand Luxury Hotel muncul di depan matanya. Cahaya pagi Bandung masih pucat, dan lobi tampak lengang. Ia melirik jam di dashboard yang menunjukkan pukul tujuh tepat.

Birru menuruni ramp menuju basement, lalu memarkir mobil dengan manuver rapi. Mesin dimatikan, tapi ia belum langsung turun. Tangannya meraih ponsel, jempolnya refleks menekan nama yang sudah hafal letaknya.

Layar menyala dengan panggilan video call pada sang pujaan hati.

Wajah Jennar muncul, cerah dengan rambut tersisir rapi dan senyum lembut yang langsung menghangatkan dada Birru.

“Hai, Ruu!” sapa Jennar dengan riang.

Birru bersandar di kursi, sudut bibirnya terangkat tanpa sadar. “Sayang… aku sudah sampai hotel. Ini masih di basement, baru saja.”

“Kebetulan,” kata Jennar sambil meletakkan ponsel di depan kalender meja. Laptopnya terbuka, jemarinya mulai bergerak. “Aku juga baru sampai kantor. Kamu sudah sarapan?”

Birru melepas sabuk pengaman, bahunya sedikit merosot. “Belum
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sentuhan Adik Sahabatku   Bab 37. Kedatangan Orang Tua.

    Birru menempelkan ponsel ke telinganya. Dari ujung sana, suara lembut mengalir pelan, menghangatkan dadanya. “Hai, Ruu…” Birru tersenyum tanpa sadar. “Sayang, aku berangkat dulu.” “Hati-hati ya, Ruu. Kabari kalau sudah sampai bandara.” “Iya, siap, Jennar-ku. I love you,” katanya penuh cinta. “Love you more.” “Bye, Sayang.” “Bye, Ruu…” Panggilan pun berakhir. Birru mengambil jaket dari lemari, lalu dengan cepat menyampirkannya ke tubuhnya. Ponsel ia masukkan ke dalam saku, langkahnya mantap keluar kamar. “Kak, sudah siap?” serunya sambil berhenti di depan pintu kamar Alexa. “Sebentar! Lima menit!” jawab Alexa dari balik pintu. “Oke, aku tunggu di depan,” balas Birru. Ia mengambil kunci mobil dari atas buffet, melewati ruang tamu yang masih sunyi, lalu mengenakan sepatu di depan rak. Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka. Alexa keluar sambil menenteng tas, rambutnya tersisir rapi, wajahnya tenang seolah siap menghadapi orang tua dengan segudang ekspektasi.

  • Sentuhan Adik Sahabatku   Bab 36. Antara Memilih dan Memiliki.

    “Nggak penting sejak kapan, Kak.” Suara Birru mantap, nyaris tanpa jeda ragu. Jemarinya mengait tangan Jennar, seolah ingin menegaskan kalimat berikutnya. “Yang pasti aku mencintai sahabat kakak. Dan aku serius sama Jennar.”Dada Jennar berdegup lebih kencang. Ia tak berani menatap Alexa terlalu lama, hanya menunduk sebentar, merasakan hangat telapak tangan Birru yang menenangkan kegelisahan di perutnya.Alexa mengembuskan napas panjang, sorot matanya berpindah dari wajah adiknya ke Jennar. “Dik, kamu tau kan peraturan tak tertulis di keluarga kita soal jodoh?”Birru mengangguk cepat, tanpa ragu. “Tahu, Kak. Dan aku siap dengan semua konsekuensinya.”Jennar menelan ludah. Kata konsekuensi bergaung di kepalanya, tapi genggaman Birru tak melemah—justru makin hangat, memberi isyarat bahwa ia tidak sendirian.Tatapan Alexa melembut, tapi bayang kekhawatiran tak sepenuhnya hilang saat perempuan itu menyandarkan punggung di sofa. Hubungan yang baru saja terungkap ini jelas bukan perkara rin

  • Sentuhan Adik Sahabatku   Bab 35. Kami Pacaran, Kak.

    Pukul setengah enam pagi, Jennar baru saja hendak melangkah keluar kamar ketika sosok Ghea sudah berdiri di ambang pintu. Rambut gadis itu masih basah, ujungnya menetes ke kaus tipis yang dikenakannya. Handuk kecil melingkar di lehernya, sementara sorot matanya tampak ragu, seolah ada sesuatu yang ingin ia sampaikan, tapi belum sepenuhnya siap.Jennar berhenti, tangannya masih menggenggam gagang pintu. “Ada apa, Ghea?” tanyanya lembut.Ghea menatap Jennar sebentar, lalu menunduk. “Mbak, aku mau bicara sesuatu.”“Sekarang?” Jennar melirik jam dinding. Jarumnya hampir menyentuh angka enam. “Tentang apa?”“Pelaksanaan KKN semester depan, Mbak.”Jennar menyandarkan bahu ke kusen pintu. “Lama nggak? Mbak mau kerja.”“Nggak lama, kok,” Ghea cepat menyela, lalu menarik napas kecil. “Aku juga sebentar lagi mau siap-siap ke kampus. Aku cuma mau bilang, biayanya harus dilunasi minggu depan.” Ia berhenti sejenak, menimbang kata. “Jadi, kalau hari ini, boleh?”Jennar menatap Ghea. “Berapa?”“Tiga

  • Sentuhan Adik Sahabatku   Bab 34. Langkah Pelan Menuju Keberanian.

    Jennar menghela napas berat sambil merapikan kerah blazernya. Ujung jarinya menepuk-nepuk lipatan kain agar tampak rapi. Di cermin lift, wajahnya terlihat pucat dengan mata yang masih menyimpan sisa kantuk.“Tarik napas, fokus, Jennar,” bisiknya pelan.Lift berdenting lembut saat tiba di lantai lima.Begitu pintu terbuka, Jennar melangkah keluar. Alih-alih langsung menuju ruang divisinya, ia berbelok ke pantri di depan divisi lain. Di sana, ia meraih sebuah mug dari rak, meletakkannya di bawah mesin kopi, lalu menekan tombol. Mesin berdengung rendah, mengisi ruangan dengan aroma kopi yang mulai menguar.Jennar duduk di kursi tinggi, menyandarkan punggungnya yang lelah.“Pagi, Jen!” sapa Helena yang baru masuk pantri.“Hai, Mbak!” balas Jennar dengan senyum meski tampak lelah.Helena melirik mesin kopi. “Tumben sudah bikin kopi sepagi ini?”Jennar terkekeh kecil sambil mengusap tengkuknya. “Iya, Mbak. Aku baru balik dari Puncak. Sampai rumah hampir jam dua belas malam. Masih ngantuk ba

  • Sentuhan Adik Sahabatku   Bab 33. Cinta yang Tak Boleh Terlihat.

    Jennar terbangun tepat pukul lima pagi ketika udara di kamarnya menusuk tajam, merayap dari sela-sela jendela hingga ke tulang. Ia menggeliat kecil, lalu refleks menahan napas saat menyadari ada lengan yang melingkar erat di pinggangnya.Sesaat jantungnya berdegup kencang.Namun begitu ingatan tentang malam panas menyusul, Jennar mengendur. Ia tersenyum kecil. Di belakangnya, ada Birru. Pria yang selalu berhasil membuatnya merasa pulang.Gerakan kecil Jennar rupanya cukup terasa.“Kamu udah bangun?” bisik Birru, suaranya masih serak oleh sisa tidur.“Udah, Ruu,” jawab Jennar lirih.Birru mengeratkan pelukannya, menarik tubuh Jennar lebih dekat hingga punggungnya menempel sempurna ke dada pria itu. Ujung hidung Birru menyentuh rambut Jennar.“Dingin banget, Sayang…” gumamnya malas.“Hmm. Makanya aku kebangun.”Birru menggeser tangannya, mengusap lengan Jennar perlahan, seolah ingin memindahkan hangat tubuhnya ke sana. “Mau tidur lagi?”Jennar menghela napas kecil, ragu. “Ruu… kamu ngga

  • Sentuhan Adik Sahabatku   Bab 32. Berbagi Kehangatan di Villa. (21++)

    Birru menarik napas dalam-dalam sebelum bibirnya perlahan terlepas dari ciuman di antara remang lampu kamar yang redup. Mereka masih duduk berdampingan di tepi ranjang, bibir mereka masih basah bekas ciuman yang tadi. Pipi Jennar memerah saat hembusan napas hangat Birru mengusap halus kulitnya.“Kamu tau, aku sudah menahan rindu sejak hari pertama di Bandung,” bisik Birru, tangan kanannya pelan menyentuh lengan bagian atas Jennar, mulai dari pergelangan tangan sampai ke bagian atas bahunya. Jari-jarinya mengelus perlahan, lembut, tidak terlalu kuat tapi cukup membuat Jennar merasakan setiap lekukan ujung jarinya.Jennar menghela napas pelan, matanya menatap Birru. “Aku juga rindu kamu, Ruu.”“Aku tau, Sayang.”“Ruu...”Birru tersenyum tipis. “Hmm? Apa Sayang? Kamu sadar nggak kalau kulit kamu itu lembut banget.” Bibirnya mulai merambat ke leher Jennar, mengusap-ngusap bagian belakang telinganya yang mulai memerah.“Boleh aku sentuh yang lain?” suaranya pelan, menggoda.Jennar menelan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status