Setelah sampai di depan gedung perkantoran milik mertuanya, Adam menarik napas dalam-dalam, menepuk-nepuk pipinya sendiri agar tidak terlihat seperti orang yang habis melihat hantu. Ia merapikan jasnya, memastikan tidak ada bau wiski dari ruangan Elian tadi yang tertinggal."Silakan, Pak Adam. Pak Hendra sudah menunggu di atas. Sebaiknya Bapak bergegas, suasana hati beliau sedang sangat... buruk," ucap sekretaris Hendra dengan wajah prihatin.Adam meringis, memberikan jempol yang gemetar. "Buruk ya? Oke, berarti hari ini menu makan siangnya 'amukan', bukan steak. Terima kasih informasinya, manis."Adam melangkah masuk ke ruangan luas itu. Begitu pintu terbuka, ia melihat Hendra berdiri membelakanginya, menatap panorama Jakarta seolah sedang merencanakan cara untuk membakar kota itu."Siang, Papa mertuaku yang paling tampan dan berkharisma!" seru Adam dengan nada yang sengaja dibuat ceria dan heboh. Ia melangkah masuk dengan gaya yang sok asik, meski hatinya berdegup kencang sepert
Read more