"Siapa, Boy?" tanya Nabila, matanya menatap ponsel ditangan pria itu. "Sarah. Gue angkat bentar ya, Bil," jawab Boy. "Duh, jangan ngerusak momen deh! Kamu tahu nggak sih, aku hari ini mengabaikan ratusan pesan dan telepon dari nomor-nomor penting cuma demi fokus sama kamu. Tapi kamu malah mau...""Jangan berlebihan, Bil," potong Boy sambil memberikan tatapan menenangkan. "Paling cuma beberapa menit. Tunggu bentar ya, Sayang."Boy segera bangkit dan melangkah menjauh menuju sudut rooftop yang agak sepi, meninggalkan Nabila yang hanya bisa menatap punggungnya dengan perasaan campur aduk antara cemburu dan penasaran.Setelah merasa jaraknya cukup jauh, Boy langsung menggeser tombol hijau. "Halo, kenapa, Sar?" tanyanya dengan suara rendah, matanya sesekali melirik ke arah Nabila untuk memastikan tunangannya itu tidak menguping."Boy... maaf, aku ganggu," suara Sarah terdengar gemetar di seberang sana, diiringi suara tangis bayi yang melengking di latar belakang. "Aku bingung harus
더 보기