Begitu pintu kaca studio terbuka, Boy langsung merentangkan tangannya lebar-lebar dengan gaya teatrikal, seolah-olah ia baru saja memenangkan piala Oscar."Duh, lega banget gue! Attention, please! Guys, ini dia... perkenalkan, calon Nyonya pemilik Studio kedua kita! Maya! Yeee! Jangan lupa kalian hapal wajah cantiknya, jangan sampai nanti dia datang terus kalian tagih biaya jahit!" seru Boy heboh pada belasan karyawannya yang masih lembur.Deni hanya mengangkat kacamatanya dengan ujung telunjuk, menatap datar ke arah Boy seolah sudah terbiasa dengan kegilaan bosnya itu. Sementara itu, para karyawan yang lain mulai tersenyum lebar, beberapa bahkan mendekat untuk bersalaman dengan Maya yang wajahnya masih sedikit sembab namun kini dihiasi rona bahagia."Selamat ya, Mbak Maya! Akhirnya Bos kita nggak galau lagi!" celetuk salah satu pegawai. "Duh, sudah, sudah! Jangan bikin calon gue malu," Boy mengibaskan tangannya, lalu menoleh ke arah Deni den
더 보기