"Mas, kita ke rumah sakit sebentar boleh?" tanya Maya memecah keheningan.Abil melirik jam di dasbor. "Tapi ini sudah malam, May. Kamu yakin? Memangnya mau ke mana?""Aku mau ke tempat Mbak Cia, sepupunya bos aku, Elian. Walau bagaimanapun, aku kan mantan sekretaris Elian, Mas. Nggak enak kalau nggak jenguk," ucap Maya pelan.Abil terdiam sejenak, helaan napasnya terdengar berat. "Kamu yakin itu alasannya?"Maya menoleh, menatap suaminya dengan tatapan jengah. "Kamu masih saja cemburu ya, Mas?""Katakan, Maya. Apa yang bisa membuatku menyingkirkan perasaan ini?" suara Abil mendadak merendah, sarat akan keputusasaan. "Pernikahan kita sudah sebulan lebih, dan aku masih tidur di sofa, kadang di kamar satu lagi. Aku suamimu, May. Tapi aku merasa seperti tamu di rumah kita sendiri.""Aku nggak pernah menolak kalau kamu mau menyentuhku, Mas," sahut Maya, mencoba membela diri. "Kamu nggak menolak, itu cuma mulutmu, May. Tapi tubuh dan hatimu tidak bisa berbohong," Abil tertawa getir
Read more