"Pak Elian, maaf, ada tamu di bawah. Namanya Pak Adam," ucap Maya melalui interkom.Elian menghentikan aktivitasnya sejenak. Sorot matanya yang tajam sedikit melunak, namun ada seringai tipis yang muncul di sudut bibirnya. "Suruh dia ke atas sekarang," jawab Elian singkat.Begitu pintu jati besar itu terbuka, sosok Adam melangkah masuk dengan setelan jas yang tampak sedikit kusut, mencerminkan kelelahan yang sama dengan yang dirasakan Elian. Sebelum Adam sempat mengucapkan salam, Elian sudah berdiri dari kursi kebesarannya."Kamu berani melangkahkan kaki di sini, dasar pria sialan," cetus Elian sambil berjalan mendekat. Bukannya kemarahan, nada suaranya justru sarat akan keakraban yang kasar—jenis persahabatan pria yang sudah melewati banyak badai bersama."Setelah mengambil sepupuku, kamu melupakanku begitu saja? Bahkan tidak ada telepon, tidak ada kabar kalau kamu sudah di Jakarta," lanjut Elian, lalu memberikan pukulan pelan di bahu Adam sebelum
続きを読む