Rinjani menatap putrinya yang duduk di meja makan, wajah Lana bersemu merah sejak bangun.“Pagi, sayang. Kenapa muka udah merah begini? Ada pesan dari siapa, hm?” tanyanya sambil menuang teh hangat. Lana buru-buru menunduk, jemarinya sibuk meremas ujung seragam.“Ini, Ma… teman,” jawabnya singkat. Elian turun dari tangga, kemeja santai masih setengah dikancing. Ia berhenti sejenak, menatap ekspresi putrinya.“Teman apa teman?” suaranya datar, tapi matanya penuh rasa ingin tahu. Dalam hati ia bergumam, setelah enam belas tahun, apa gadis kecilku akhirnya jatuh cinta? “Apaan sih, Pa. Aku udah ada yang jemput, aku duluan ya,” Lana bangkit, meraih tasnya. “Kamu nggak diantar supir?” Elian mengernyit. “Enggak, Pa. Nggak perlu.” Rinjani ikut melangkah ke teras, ingin memastikan. Di depan pagar, seorang remaja turun dari motor, senyumnya lebar. “Pagi, Tante. Saya izin jemput Lana ke sekolah,” sapa Saka sopan, merapikan jaketnya. Rinjani terdiam sejenak, matanya meneliti wajah
อ่านเพิ่มเติม