"Kalau nggak jodoh juga? Berarti takdirnya lagi bercanda sama gue," jawab Lana asal, masih dengan tawa yang menghiasi wajah cantiknya."Lagian, Ka," Lana menopang dagunya. "Rasanya aneh. Sama Saka, gue nggak pernah ngerasa sendirian. Kayak ada kepingan yang selama ini hilang, terus tiba-tiba ketemu. Gue rasa Papa bakal suka sama dia kalau udah kenak lebih jauh. "Di lantai atas, Elian merosot di balik pintu kamarnya. Kalimat Lana, itu bukan cinta romantis yang Lana rasakan; itu adalah panggilan darah yang menuntut pengakuan."Brengsek kau, Elian," maki Elian pada dirinya sendiri, merutuki pengecutnya dia belasan tahun yang lalu."Duh, namanya juga cinta monyet, ya iyalah rasanya kayak gitu," celetuk Arka sambil menghabiskan sisa air minumnya. "Btw, gue sudah kenyang nih, gue pengen pulang. Motor gue masih kehabisan bensin di jalan, lo jaga dulu ya 'cinta' gue itu.""Cinta kok sama motor," ledek Lana."Itu hadiah dari Bokap gue, tahu nggak! Ya sudah, gue sudah pesan taksi online,
อ่านเพิ่มเติม