Baru saja sampai di tempat penjual sate, Ponsel pria itu sudah berdering keras."Ada apa, Pa?" tanya Saka.Antonio menjauh sejenak, suaranya terdengar rendah dan tajam, sebelum kembali dengan raut wajah yang mendadak kaku."Papa harus ke suatu tempat. Penting. Kita pulang sekarang," ajak Antonio, matanya menyisir sekeliling dengan waspada.Saka menghela napas, kecewa karena martabak dan satenya belum sempat menyentuh lidah. "Aku pesan dua porsi dulu buat dibungkus, habis itu kita pulang. Tanggung, Pa.""Kamu mau Papa tinggal sendirian di sini?" nada bicara Antonio meninggi, menunjukkan kecemasan yang coba ia tutupi."Aman, Pa. Lihat tuh, Abang satenya badannya kekar kayak Papa. Kalau ada musuh menyerang, dia pasti jagain aku," bisik Saka, mencoba segala cara agar diizinkan menikmati sisa malam tanpa bayang-bayang jas hitam.Antonio terdiam sejenak, batinnya berperang antara tugas mendesak dan keselamatan anaknya. Ak
อ่านเพิ่มเติม