LOGINSekarang apa yang ia dapatkan dari keegoannya saat itu? Apa ia bahagia dengan Selina? Yang terasakan hanya penyesalan semakin dalam.🖤LS🖤Langit sudah berubah warna ketika Nadia melangkah ke parkiran. Sore merambat ke senja, meninggalkan sisa-sisa cahaya jingga di balik gedung-gedung tinggi. Area parkiran tak lagi ramai. Hanya beberapa mobil dan motor yang tersisa.Ada debar yang tak mau diam di dadanya. Senja ini, ia dan Dewa akan memulai persiapan pertamanya. Memilih baju pengantin.Begitu Nadia mendekat, kaca jendela diturunkan dan Dewa tersenyum padanya. "Kita langsung berangkat."Nadia mengangguk sambil memakai sabuk pengaman. Kemudian mengambil lunch box dan membukanya. "Coba icipi dulu, Mas."Dewa mengambil sepotong sponge cake. "Enak. Kamu pinter bikin kue," ujar Dewa sambil mengunyah.Nadia tersenyum lalu menyodorkan sebotol air mineral. Selesai minum, Dewa melajukan mobil meninggalkan area parkir, menyusuri jalan yang mulai diterangi lampu-lampu kota. Kemudian mampir sala
Pagi itu di kantor Graha Utama berjalan seperti biasa, tapi bagi Nadia ada irama lain yang berdegup di dadanya setelah lamaran hari Sabtu. Jemarinya bergerak lincah di atas keyboard, membuka dan menutup berkas, menyelaraskan angka-angka yang sejak tadi menuntut ketelitian. Wajahnya tenang, tapi pikirannya sesekali melayang pada kejadian itu. Lamaran lalu percakapan dengan Dewa hingga larut malam telah mengubah arah hidupnya.Mbak Ayi muncul di sisi mejanya sambil menenteng map cokelat. "Na," nada suaranya lirih. "Gimana acara malam minggu?""Alhamdulillah lancar, Mbak. Insyaallah sebulan lagi kami nikah."Mata Mbak Ayi membulat. "Hah! Sebulan lagi?"Nadia mengangguk pelan. "Tolong dirahasiakan dulu ya, Mbak.""Oke." Ia menyodorkan map. "Ini perlu tanda tangan Pak Dewa, Na. Urgent.""Hmm, iya, Mbak." Dada Nadia refleks mengencang. Ish, kenapa masih deg-degan begini? Padahal setelah menikah pun ia harus benar-benar profesional. Nadia beranjak ke ruangan Dewa. Ia mendorong pintu perlah
NADIA- 43 Baju Pengantin Malam itu bagai mimpi bagi Nadia. Hidup yang begitu cepat berubah. Kejutan demi kejutan menghampiri, nyaris tak memberikan ruang untuk bernapas. Walaupun ngos-ngosan, tapi ini perubahan drastis yang membahagiakan.Ia memperhatikan cincin yang melingkar di jari manisnya. Calon mertua yang menyematkannya waktu acara lamaran tadi. Cincin itu, entah berapa harganya. Ada berlian menjadi permatanya."Kamu benar-benar akan diratukan, Na. Biar yang di sana gigit jari. Penyesalan yang nggak akan pernah bisa ditebusnya. Seumur hidup itu." Wiwin bicara setelah keluarga Dewa pamit pulang."Kalau kamu jadi nyonya besar, jangan lupa padaku.""Ngomong apa kamu, Win. Sampai kapanpun kita akan tetap jadi sahabat," tepis Nadia. Bagaimana mungkin dia berubah, Wiwin adalah sosok yang tahu perjalanan hidupnya, tahu bagaimana hubungannya dengan Davin sebelum ibunya sendiri mengetahui penderitaannya."Pak Dewa udah lama menduda, loh. Awas nanti buka puasanya dihabisin semua tanpa
"Iya, Bu."Menjelang Maghrib, semua hidangan telah tersaji. Rumah yang biasanya rame oleh suara Adam saja, kini mendadak terasa hangat. Namun Nadia semakin berdebar-debar. Dalam kurun waktu lima tahun dia lamaran dua kali, menikah dua kali.Nadia teringat dengan Pak Lukman. Yang ternyata bukan ayah kandungnya. Dia sedih. Pria itu adalah ayah yang sangat baik. Namun sudah pergi untuk selama-lamanya. Dan Pak Haris? Nadia tersenyum getir.Selesai salat Maghrib, Nadia melipat mukena dan Wiwin sudah menunggunya dengan tas make up terbuka."Na, ini lamaran. Pakai make up yang agak cerah dikit gitu, loh," protes Wiwin.Nadia menggeleng. "Nggak usah. Ini acara sederhana, Win. Keluarga inti Pak Dewa saja yang akan datang.""Kamu manggilnya masih Pak Dewa?" Wiwin memandang Nadia sambil mengernyitkan dahi."Iya. Kami kan baru lamaran saja. Terus dia bosku di kantor. Aku belum terbiasa manggil mas, Win.""Okelah. Cepetan kamu ganti baju."Akhirnya Nadia memilih gamis warna terakota dengan jilbab
Selesai makan, Bu Isti menarik napas panjang. Tangannya terlipat di atas meja dan wajahnya terlihat serius. "Sebenarnya selain berkenalan, ada hal penting yang hendak saya sampaikan."Nadia gelisah. Dewa siap mendengarkan, sementara Bu Hana mengangguk, memberi isyarat agar wanita itu melanjutkan bicaranya."Saya ingin jujur tentang kenyataan dalam hidup saya dan anak saya. Jangan sampai hal ini akan menimbulkan permasalahan di kemudian hari." Bu Isti memandang putrinya. Saat itu Bu Hana serius memperhatikan. Suasana hening sejenak. Adam sibuk memainkan sendoknya, tidak menyadari betapa berat perasaan orang-orang dewasa di sekelilingnya.Akhirnya Bu Isti menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutupi. Hubungan ini harus diawali dengan kejujuran. Nadia menggigit bibir, menahan dada yang terasa sesak.Sementara Dewa dan Bu Hana sempat kaget sesaat. Namun mereka langsung bisa mengontrol gestur tubuh. "Sebelum acara lamaran, saya memang harus memberitahukan hal ini. Supaya nggak ada penye
NADIA- 42 Malam Penentuan "Kamu ingin bertemu Haris, Na?" tanya Bu Isti saat mereka sudah dalam perjalanan menuju ke sebuah rumah makan. Wanita itu memangku cucunya yang tengah memperhatikan padatnya kendaraan."Nggak, Bu. Aku mengikuti apapun keputusan Ibu. Ayahku hanya Pak Lukman," jawab Nadia sambil fokus menyetir.Ia masih ingat bagaimana Pak Haris mendampingi Selina di pelaminan. Bahagia disamping dua perempuan yang telah merenggut kebahagiaannya dan kebahagiaan ibunya. Setelah tahu kenyataan kalau lelaki itu ayah biologisnya, hati Nadia kian terluka. Lelaki yang terlihat baik dan bijaksana itu, ternyata sekejam Davin. Mungkin jika dirinya lemah, bisa saja Davin akan membuatnya tak berdaya. Lantas memiliki nasib yang sama seperti ibunya. "Kenapa orang-orang jahat seperti mereka, hidupnya baik-baik saja, Bu?""Itu kelihatannya," jawab Bu Isti ringan. "Serahkan saja pada Yang Maha Kuasa, Na. Nggak ada kejahatan yang lolos dari pembalasan. Entah itu dibalas di dunia atau di akhi







