Malam kembali merayap, membawa hawa dingin yang lebih menggigit dari sebelumnya. Di dalam gubuk kayu itu, lampu minyak kecil bergoyang pelan, menciptakan bayangan panjang yang menari di dinding. Suara deburan ombak di luar sana terdengar seperti bisikan rahasia dari masa lalu yang tak pernah benar-benar pergi. Di atas dipan kayu yang sempit, Seonwoo duduk bertelanjang dada, sementara Winda duduk di hadapannya dengan kotak obat kecil dan air hangat.Lampu temaram itu menyingkap segalanya, setiap inci kulit Seonwoo yang dulu mulus, kini dihiasi oleh jejak-jejak kekejaman. Winda terdiam, jemarinya yang gemetar memegang kain kasa. Matanya terpaku pada bekas luka tembak di sisi perut Seonwoo, sebuah lubang yang telah menutup namun menyisakan jaringan parut yang kasar, bukti bisu dari malam berdarah di pelabuhan."Masih sakit?" bisik Winda, suaranya nyaris hilang ditelan sunyi.Seonwoo menatap Winda, matanya yang gelap tampak berkilat di bawah cahaya lampu. "Rasa sakitnya sudah hilang sejak
Last Updated : 2026-01-29 Read more