Udara di dalam ruang kunjungan penjara Seoul Pusat sore itu terasa sangat berat, seolah kelembapan dari badai salju di luar sana merembes masuk melalui celah-celah beton yang retak. Di balik kaca pembatas, Jae-hyun duduk dengan punggung tegak, namun ada garis kegelisahan yang tak mampu ia sembunyikan di keningnya. Berita tentang badai besar di wilayah Incheon dan lereng bukit telah menjadi tajuk utama di televisi penjara sejak tadi pagi, dan pikirannya tak sedetik pun beranjak dari sana.Pintu berdentum. Kim Yura masuk, namun kali ini ia tidak berlari. Langkahnya tenang, meskipun hidungnya masih sedikit kemerahan karena flu yang belum sepenuhnya sembuh. Di tangannya, ia membawa sebuah kotak bekal berwarna biru laut dan sebuah tas kecil yang tampak rapi, sebuah pemandangan langka dibandingkan dengan kekacauannya yang biasa."Selamat sore, Tuan Jae-hyun," sapa Yura. Suaranya lembut, namun ada nada serius yang membuat Jae-hyun segera meraih gagang telepon."Kau sudah dengar beritanya?" t
Last Updated : 2026-02-08 Read more